Orthetrum sabina - Surabaya 1







FOBI - Foto Biodiversitas Indonesia

Situs
Basisdata
Foto
dan
Komunitas
Pemerhati
Keanekaragaman
Hayati
Indonesia

Majalah Biodiversitas Indonesia Vol.1 No.2

Majalah Digital BIODIVERSITAS INDONESIA edisi kedua telah terbit. Edisi kali ini bertemakan kupu-kupu. Sehingga tentu saja foto dan tulisan tentang kupu-kupu begitu mendominasi.

Biodiversitas Indonesia

Klik pada link dibawah untuk mengunduh

Klik disini untuk mengunduh majalah (low resolution) (3,7 mb)

Klik disini untuk mengunduh majalah (high resolution) (30 mb)

Dimulai dari membludaknya foto kupu-kupu yang terunggah di FOBI, kisah blusukan mengamati kupu-kupu, penemuan jenis pakan baru, hingga perenungan penamaan kupu dalam bahasa Indonesia. Tentu saja redaksi tidak lupa untuk mewawancarai beberapa Bioders yang telah mendedikasikan sebagian hidupnya untuk kupu-kupu.

Dalam rubrik Spesies, beberapa artikel tentang biota selain kupu-kupu juga disertakan. Dengan tujuan supaya pembaca juga tidak ketinggalan informasi tentang biota lain. Kemudian untuk kenyamanan membaca edisi ini tersedia dalam high resolution dan low resolution yang bisa diunduh sesuai dengan kebutuhan pembaca.

Edisi kedua ini juga merupakan hasil tanggapan dari kritik dan saran pembaca pada edisi pertama. Dimana saran-saran itu antara lain; penambahan jumlah artikel, tampilnya foto-foto yang telah diunggah di situs FOBI, serta adanya rubrik untuk membantu memudahkan identifikasi suatu jenis biota.

Meskipun begitu, dalam edisi kali ini pun kami terus berharap supaya pembaca berkenan untuk tetap memberikan komentarnya. Sebab dengan adanya umpan balik yang tepat, FOBI semakin bersemangat untuk terus menyebarluaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan BIODIVERSITAS INDONESIA.

Selamat membaca.

Did you like this? Share it:

Nasib Luwak Ibukota

Sore menjelang malam itu di kost begitu ramai anak-anak. Tumben. Mereka menonton kandang kawat Pak Kos, menggebrak-gebraknya sambil teriak-teriak. Saya amati ternyata ada 3 ekor anak luwak di dalamnya, musang kalau orang sini bilang. Wuih, Pak Kos beli luwak tiga sekaligus, tapi kenapa musti beli banyak? pikir saya waktu itu. Usut punya usut ternyata luwak tersebut ditemukan di rumah kosong samping kost yang sudah lama tidak dihuni, yang kini hanya menjadi tempat simpan meja dan gerobak pedagang.

Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) kecil yang ditemukan

Anak Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) yang ditemukan

Baca selanjutnya…..

Did you like this? Share it:

Menggaruk Lumpur, Menuai Kepah, Mendulang Rupiah

Siang itu, perairan Tanjung Balai Sumatera Utara begitu menyengat, cuaca cerah, air sedang surut, dan laut cukup tenang. Seperti biasa, saya melakukan monitoring sanitasi kekerangan di sini untuk mengetahui kondisi perairan dan sampling kerang untuk mengetahui kadar logam berat, bakteri patogen, identifikasi plankton, dan biotoxin agar kualitas perairan terpantau baik. Salah satu komoditas perikanan yang menjadi andalan daerah ini adalah kerang kepah. Kepah ini menembus pasar ekspor, sehingga perlu adanya jaminan bahwa produk ini aman dikonsumsi.

Ini dia yang namanya kepah. Dagingnya yang putih, lebih nampak bersih bila dibandingkan dengan kerang yang ada di pasaran seperti kerang darah, kerang bulu, dan kerang hijau. Kepah hidup di substrat lumpur atau berpasir dan melakukan filter feeder untuk memenuhi kebutuhan nutrisi untuk menunjang pertumbuhannya. Keberadaannya di perairan Tanjung Balai masih mudah ditemukan, sehingga menjadi salah satu target perburuan nelayan saat air laut sedang surut. Baca selanjutnya…..

Did you like this? Share it:

Piknik ke Trisik di Hari Batik

bioders-batikan

Dari kiri ke kanan: GJW, SW, IT & HS. Area persawahan Pantai Trisik, 2 Okt 2011.

Apa yang bisa saya lakukan ketika Hary “Karimunjawa” Susanto dan Swiss “Baluran” Winasis datang menyambangi Yogyakarta? Jawabnya, ya menemani dua bioders legendaris itu piknik ke Trisik. Dan karena bertepatan dengan Hari Batik Se-dunia, 2 Oktober, jadilah hari itu kami berpiknik dengan batik.

Kenapa ke Pantai Trisik? Ya, pertama, biar kata dalam judul artikel ini berakhiran ‘-ik’ semua. Hehe… (Enggak ding, bercanda). Tentu ada banyak alasan untuk ke sana. Pertama, saya merasa lokasi itu lebih pas untuk Kang Hary bisa menangkap burung dengan teknik digiscoping-nya. Maklumlah, saat menemani orang laut itu ke Plawangan, TN Gunung Merapi, kegalauan tampak di wajahnya. Kala itu jangankan sempat memotret burung, memasang kaki-kaki tripod saja terasa sulit di lantai hutan yang sedemikan rapat. Bagi bioders berinisial HS ini, semboyan “di laut kita jaya” seperti menemukan pembenarannya. Hehe… Baca selanjutnya…..

Did you like this? Share it:

Si Rohane Yang Inspiring

Zizina otis

Zizina otis, di suatu pagi

Dulu saya tidak pernah membayangkan kalau pada akhirnya saya sampai ketagihan motret kupu-kupu. Saya memang suka kupu-kupu karena kecantikan warna dan pola pada sayapnya. Tapi untuk memotret mereka sepertinya bukan pilihan utama. Alasannya sederhana saja, karena kelakuannya yang tidak pernah bisa diam, kalaupun sudah diam hinggap maka masalah kedua adalah saya tidak bisa mendekati mereka untuk ambil jarak terdekat. Tapi sekarang saya baru menyadari kenapa dulu saya sangat susah mendapatkan foto kupu-kupu, penyebabnya karena memang tidak ada niat saja. Sangat sederhana. Baca selanjutnya…..

Did you like this? Share it:
Page 2 of 11«12345»...Last »