<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Foto Biodiversitas Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.fobi.web.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.fobi.web.id</link>
	<description>Basisdata foto biodiversitas Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 13:33:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>170 Hari Berkawan Joja di Mentawai</title>
		<link>http://www.fobi.web.id/2012/02/170-hari-berkawan-joja-di-mentawai</link>
		<comments>http://www.fobi.web.id/2012/02/170-hari-berkawan-joja-di-mentawai#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 07:07:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imam</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>

		<category><![CDATA[Bilou]]></category>

		<category><![CDATA[bokkoi]]></category>

		<category><![CDATA[Hylobates klossii]]></category>

		<category><![CDATA[Joja]]></category>

		<category><![CDATA[Macaca siberu]]></category>

		<category><![CDATA[Mentawai]]></category>

		<category><![CDATA[perilaku]]></category>

		<category><![CDATA[perilaku pengasuhan]]></category>

		<category><![CDATA[Presbytis potenziani]]></category>

		<category><![CDATA[Siberut]]></category>

		<category><![CDATA[Simakobu]]></category>

		<category><![CDATA[Simias concolor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fobi.web.id/?p=2335</guid>
		<description><![CDATA[
Ada sebuah rentetan suara yang setia membangunkanku setiap subuh di hutan Pungut, Siberut Utara. Suara yang berbunyi “Bago-bago-bago kulu-kulu-kulu…..” itu biasa disebut bago-bago oleh masyarakat Mentawai. Suara nyaring tersebut merupakan loud call dari satwa bernama joja (Presbytis potenziani).
Joja merupakan salah satu dari empat primata endemik di Kepulauan Mentawai. Bilou (Hylobates klossii), bokkoi (Macaca siberu), dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p><div id="attachment_2338" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/joja-kp.jpg" ><img class="size-full wp-image-2338   " title="joja-kp" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/joja-kp.jpg" alt="Joja (Presbytis potenziani), yang menjadi salah satu primata endemik Siberut." width="480" height="640" /></a><p class="wp-caption-text">Joja (Presbytis potenziani), satu dari empat primata endemik Siberut.</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah rentetan suara yang setia membangunkanku setiap subuh di hutan Pungut, Siberut Utara. Suara yang berbunyi “<em>Bago-bago-bago kulu-kulu-kulu…..</em>” itu biasa disebut <em>bago-bago</em> oleh masyarakat Mentawai. Suara nyaring tersebut merupakan <em>loud call</em> dari satwa bernama <a href="http://www.fobi.web.id/v/mammalia/f-cer/pre-pot/"  target="_blank">joja (<em>Presbytis potenziani</em>)</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Joja merupakan salah satu dari empat primata endemik di Kepulauan Mentawai. Bilou (<em>Hylobates klossii</em>), bokkoi (<em>Macaca siberu</em>), dan <a href="http://www.fobi.web.id/v/mammalia/f-cer/sim-con"  target="_blank">simakobu (<em>Simias concolor</em>)</a> adalah tiga jenis primata endemik lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat dua sub spesies joja di Kepulauan Mentawai. <em>Presbytis potenziani potenziani</em> yang terdistribusi di Pulau Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora, serta <em>Presbytis potenziani siberu</em> yang mendiami Pulau Siberut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya beruntung, mendapat kesempatan istimewa menjadi salah satu asisten peneliti joja selama 170 hari di Pulau Siberut. Penelitian yang dimulai pada bulan April 2011 itu merupakan salah satu program dalam Siberut Conservation Program. Sehingga saya bisa mengenal salah satu satwa penyumbang kekayaan biodiversitas Indonesia ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kegiatan harian</strong><br />
Dalam seminggu, mulai hari Selasa hingga Jum’at saya melakukan pengamatan joja dengan cara mengikuti salah satu kelompok joja. Ditemani oleh seorang <em>guide</em> di kala hari cerah dan tidak ada halangan lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengamatan biasa dimulai pukul 06.00 dan berakhir sekitar pukul 18.00, disaat joja sudah menjelang sampai lagi di <em>sleeping tree</em>. Itu berarti, pukul 05.45 waktu setempat, saya sudah harus bersiap di <em>uma </em>(rumah adat Mentawai) yang digunakan sebagai <em>basecamp</em> untuk mendengarkan dengan seksama dari mana arah suara joja. Banyak suara panggilan panjang (<em>long call</em>) berbagai jenis primata di setiap pagi. Suaranya berbeda-beda antara satu jenis dengan jenis lainnya. Sehingga kita harus cermat dalam mendengarkan ciri khas dari suara-suara <em>long call</em> tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini merupakan salah satu keahlian <em>guide</em>. Menentukan suara joja sekaligus menebak arah suara, serta perkiraan jarak dari <em>camp</em>. Dengan panduan suara tersebut dan berbekal perlengkapan tempur berupa senter/<em>headlamp </em>(karena jam 06.00 masih gelap), GPS, binokuler, <em>timer</em> dan <em>logbook</em>, kami bergerak. Berjuang naik-turun bukit dan menyeberangi sungai untuk mengikuti salah satu kelompok joja. Perjalanan pengamatan itu berputar-putar dalam radius 1 km.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah aturan tak tertulis selalu kami taati ketika pengamatan, yaitu menjaga jarak paling dekat 5 m dari joja. Hal ini untuk terus menjaga kenyamanan joja dalam beraktifitas dan juga untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari manusia ke hewan atau sebaliknya. Penularan penyakit itu biasa disebut sebagai zoonosis.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><div id="attachment_2339" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/javan-kecil-kp.jpg" ><img class="size-large wp-image-2339" title="javan-kecil-kp" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/javan-kecil-kp-360x480.jpg" alt="Javan kecil dalam pelukan induknya, Jesi." width="360" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Javan kecil dalam pelukan induknya, Jesi.</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Ada dua kelompok joja yang kami ikuti secara bergantian, yakni grup Joni dan Jimbo. Sebenarnya Jimbo (jantan dewasa) merupakan anak Joni. Namun sesuai hukum rimba,  joja jantan yang memasuki usia dewasa akan meninggalkan kelompoknya dan membentuk kelompok baru. Saat ini kelompok Jimbo memiliki dua ekor betina.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan kelompok Joni, terdiri dari delapan ekor joja, yakni Joni sebagai pejantan dewasa dengan Jesi dan Jini sebagai betina dewasa. Keduanya merupakan isteri Joni. Lalu ada Jefra dan Juli yang merupakan <em>sub adult female</em>, Jojo dan Juan  yang masih <em>juvenile female</em>, serta Javan. Javan merupakan anak dari Jesi yang menjadi anggota termuda. Diperkirakan lahir akhir bulan Agustus 2011 (<em>infant</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kebiasaan</strong><br />
Seperti halnya manusia yang rajin, joja mulai aktif menjelang matahari terbit. Saat kami berhasil menemukan kelompoknya, biasanya joja-joja ini sudah mulai bergerak dari <em>sleeping tree</em>, menuju pohon lain untuk mulai mencari makan. Salah satu hal yang menarik untuk pengamatan pagi adalah keributan yang dibangun para betina anak-anak, terutama Juan dan Jojo.</p>
<p style="text-align: justify;">Layaknya anak-anak di pagi hari yang cerah, dua <em>juvenile</em> tersebut bermain kejar-kejaran. Seakan tak mau kalah, Jefra dan Juli juga ikut bergabung dengan kedua adiknya. Kalau empat ekor joja itu bergabung, keributan akan bertambah. Permainan tidak lagi kejar-kejaran, namun sampai  tarik-menarik ekor atau aksi saling dorong pun terjadi hingga ada yang berteriak-teriak sampai menggeram. Jika terlalu ribut, biasanya Joni akan menyela dengan <em>bago-bago</em>-nya. Entah karena lelah, lapar atau alasan lain, menjelang matahari yang menghangat barulah permainan usai dan mereka mulai asik mencari makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanan joja cukup bervariasi. Selama pengamatan, jenis makanan yang paling sering dikonsumsi adalah buah dan daun. Terkadang mereka juga makan bunga, jamur  atau nampak menggigit ranting jenis pohon tertentu. Namun pada saat musim buah, joja tercatat lebih sering mengkonsumsi buah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><div id="attachment_2340" class="wp-caption aligncenter" style="width: 326px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/menyantap-paktoktuk-kp.jpg" ><img class="size-full wp-image-2340" title="menyantap-paktoktuk-kp" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/menyantap-paktoktuk-kp.jpg" alt="Menyantap paktoktuk (Durio graveolens)" width="316" height="421" /></a><p class="wp-caption-text">Menyantap paktoktuk (Durio graveolens)</p></div></p>
<p><div id="attachment_2342" class="wp-caption aligncenter" style="width: 362px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/memetik-durian-kecil.jpg" ><img class="size-full wp-image-2342" title="memetik-durian-kecil-KP" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/memetik-durian-kecil.jpg" alt="Memetik durian kecil" width="352" height="469" /></a><p class="wp-caption-text">Memetik durian kecil</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu buah yang menurutku istimewa adalah <em>pakatoktuk</em> (<em>Durio graveolens</em>). Buah ini memiliki morfologi layaknya buah durian, pun juga pohonnya. Perbedaannya, daun <em>pakatoktuk</em> lebih kaku/tebal. Tak kalah dengan warga mentawai yang saat itu panen <em>doriat</em> (<em>Durio zibethinus</em>) dan <em>toktuk</em> (<em>Durio zibethinus</em>), joja pun asik panen <em>pakatoktuk</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah satu hal yang sangat menarik bagiku melihat cara joja berusaha mengambil biji <em>pakatoktuk</em> dari kulit buah yang berduri itu. Tak jauh beda dengan manusia. Diawali dengan mengidentifikasi pakan (membaui dan mencari celah kulit yang terbuka), dia mulai berusaha memperlebar celah kulit dengan menarik atau menekan sekat ke arah berlawanan. Namun sayangnya, buah ini tidak enak jika kita yang memakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><div id="attachment_2431" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/presbytis-potenziani_siberut_kp.jpg" ><img class="size-large wp-image-2431" title="presbytis-potenziani_siberut_kp" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/presbytis-potenziani_siberut_kp-360x480.jpg" alt="Tingkah Juli (salah satu joja betina anggota kelompok Jimbo) saat makan" width="360" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Tingkah Juli (salah satu joja betina anggota kelompok Jimbo) saat makan</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Jenis buah lain yang dimakan joja di antaranya adalah <em>batti</em> (<em>Nephelium lappaceum</em>). Berbentuk seperti rambutan tapi lebih kecil. Kemudian ada <em>malai</em>, <em>posa</em> (<em>Baccaurea</em> sp), <em>boiko </em>(<em>Alangium ridleyi</em>) serta <em>telengat-ngat</em> (sejenis liana). Jenis-jenis buah yang disebut belakangan tadi bisa kita makan. Rasanya sedikit asam tapi menyegarkan, kecuali <em>telengat-ngat</em> yang cenderung manis saja. Bahkan saat para joja menguasai pohon buah tersebut, sempat saya dan <em>guide</em> mengais-ngais serasah di sekitar pohon untuk menemukan sekedar satu atau dua buah yang terjatuh. Lumayan untuk pengisi perut.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Mentawai memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan hutan dan segala isinya, termasuk kepada <em>siraoma</em> (monyet). Hingga <em>bago-bago</em> dipercaya bisa memanggil hujan. Sedangkan suara bilou akan memanggil matahari untuk segera muncul. Memang, kenyataannya jika hari mendung apalagi terdengar suara <em>lelenggu</em> (guntur), joja betina mulai panik. Ribut dan tak jarang sang induk memanggil anaknya untuk kemudian memeluknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian saat anggota keluarganya semakin ribut, joja jantan mulai <em>bago-bago</em>. Saya pun tidak mau kalah dengan joja, bersama sang <em>guide</em>, kami meneriakkan mantera pemanggil hujan. “<em>Koi-koi kina urat, mabutek beu kabitnu</em>” yang artinya: “Datang-datanglah hujan, busuk bau kolormu”. Mantera itu menjadi indikasi kemalasan kami karena tak lama setelah itu, sambil berharap hujan segera turun, kami pun langsung pulang ke<em> basecamp</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Daerah kekuasaan</strong><br />
<em>Home range</em> satu kelompok joja terkadang bersinggungan atau bahkan <em>overlap</em> dengan kelompok joja atau primata lain. Pernah dijumpai satu pohon tidur digunakan oleh joja dan simakobu sekaligus dalam satu waktu, tanpa adanya perilaku agresif. Keduanya juga pernah dijumpai makan dalam satu pohon. Rekan-rekan <em>guide</em> juga tidak pernah menjumpai adanya perilaku agresif antara joja dan simakobu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perilaku agresif yang pernah dijumpai seorang <em>guide</em> malah terjadi antara joja dan bilou. Pada waktu itu Jimbo yang masih anak-anak diserang oleh seekor bilou pada saat dua kelompok primata itu bersinggungan. Namun selama pengamatan saya belum pernah menjumpainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pol mentok dua kejadian persinggungan yang kujumpai adalah saat para joja sedang makan di pohon <em>batti </em>dan mendekatlah tiga ekor bilou dengan suara khasnya. Satu ekor di antaranya berada pada jarak kurang dari lima meter dengan joja. Kemudian para joja sempat menyingkir menjaga jarak dan melanjutkan makan. Setelah itu, bilou pun pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dipertemuan berikutnya, pada saat berpapasan dengan bilou juga, joja betina berkumpul di satu pohon. Berhadap-hadapan dengan bilou di pohon depannya. Tidak lama kemudian bilou-bilou itu juga pergi, dan para joja kembali beraktivitas seperti biasa, makan. Tidak ada tanda-tanda perseteruan di antara keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal tersebut akan berbeda ketika dua kelompok joja saling berdekatan. Saling beradu <em>bago-bago </em>pun terjadi. Di saat seperti itu, biasanya betina dan anak-anak akan mengumpul dan merengek.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah satu ketika Joni dan keluarganya sedang mencari makan. Tiba-tiba terdengar suara betina dari kelompok lain yang diperkirakan berjarak kurang dari 50 meter. Kemungkinan betina tersebut bersama kelompoknya, Joja Langgurek, demikian kami menyebut kelompok itu. Tidak lama berselang Joni pun bago-bago. Lalu secara mengejutkan, dia mendadak turun ke tanah dan berlari dengan empat kaki ke arah Joja Langgurek. Sejurus kemudian terdengar suara Joni <em>bago-bago </em>tapi tak lama kembali lagi ke kawanannya. Sepertinya mereka hanya tidak ingin kelompok lain memasuki <em>core area</em> ataupun mengganggu kawanannya, mempertahankan teritori.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><div id="attachment_2343" class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/ular-phyton-kp.jpg" ><img class="size-large wp-image-2343 " title="ular-phyton-kp" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/ular-phyton-kp-360x480.jpg" alt="Phyton yang mejadi predator joja" width="288" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">Phyton yang mejadi predator joja</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Lain lagi perilakunya jika kawanan ini melihat satu hal yang dianggap mengancam. Mereka akan mengeluarkan <em>alarm call</em>, yang oleh warga Mentawai disebut <em>digok-digok</em>. Satu kali akhirnya saya berhasil mengetahui kenapa mereka <em>digok-digok</em> di tepi sungai. Adalah seekor ular phyton di sebatang pohon hingga akhirnya keluarga Joni pun ramai ber-<em>digok-digok</em> ria.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang, selain manusia ancaman predator lain primata Siberut adalah ular. Sebelum kejadian itu, diketahui seekor simakobu betina juga tewas dibelit phyton.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang membuatku tersenyum adalah kenakalan atau rasa ingin tahu yang dimiliki anak-anak dan remaja di keluarga ini. Meskipun mereka tetap ber-<em>digok-digok</em>, Juli nampak mendekat penasaran dan melihat ke arah ular. Sebentar kemudian kembali menjauh. Setelah itu gantian adiknya Jojo dan Juan melihat mendekati sang pemangsa. Tak lama setelah itu kembali menjauh, dan lagi-lagi Juli menengok ular itu. Begitu terjadi beberapa kali, sebelum akhirnya ia mengikuti kawanannya bergerak menjauh dari sang predator.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan meneliti perilaku joja ini menjadi pengalaman yang sungguh luar biasa buat saya. Itulah 170 hari yang amat sangat saya syukuri karena berkesempatan mengenal salah satu kekayaan negeri ini.</p>
<p><strong>Teks dan foto</strong> oleh <a target="_blank" href="http://kasihputri.wordpress.com/" >Kasih Putri Handayani</a><br />
<strong>Alumni Matalabiogama</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fobi.web.id/2012/02/170-hari-berkawan-joja-di-mentawai/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pasukan Tentara &#8220;Mantids&#8221;</title>
		<link>http://www.fobi.web.id/2012/02/pasukan-tentara-mantids</link>
		<comments>http://www.fobi.web.id/2012/02/pasukan-tentara-mantids#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 16:08:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imam</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Biodversitas]]></category>

		<category><![CDATA[belalang sembah]]></category>

		<category><![CDATA[Mantidae]]></category>

		<category><![CDATA[Praying Mantids]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fobi.web.id/?p=2370</guid>
		<description><![CDATA[
Tidak disangka, kejadian alam yang mungkin dapat mengundang perhatian peminat serangga berlaku di halaman rumah saya. Sekelompok pasukan Praying Mantids bergelayutan setelah keluar dari sarang telurnya. Walaupun terlambat mengamati, momen proses kelahiran belalang sembah itu merupakan sesuatu yang baru dalam hidup saya.

Dalam referensi serangga, belalang sembah atau tontadak (dalam bahasa Melayu-Rokan) tergolong dalam ordo Orthoptera. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p><div id="attachment_2375" class="wp-caption alignleft" style="width: 610px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/anakan-belalang-sembah.jpg" ><img class="size-full wp-image-2375" title="anakan-belalang-sembah" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/anakan-belalang-sembah.jpg" alt="Foto 1. Pasukan mantids yang bergayutan keluar dari sarang telur." width="600" height="800" /></a><p class="wp-caption-text">Foto 1. Pasukan mantids yang bergayutan keluar dari sarang telur.</p></div></p>
<p>Tidak disangka, kejadian alam yang mungkin dapat mengundang perhatian peminat serangga berlaku di halaman rumah saya. Sekelompok pasukan <em>Praying Mantids</em> bergelayutan setelah keluar dari sarang telurnya. Walaupun terlambat mengamati, momen proses kelahiran belalang sembah itu merupakan sesuatu yang baru dalam hidup saya.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Dalam referensi serangga, belalang sembah atau <em>tontadak</em> (dalam bahasa Melayu-Rokan) tergolong dalam ordo Orthoptera. Dalam situs FOBI, ada dua belalang sembah (lihat famili <a href="http://www.fobi.web.id/v/insect/f-man"  target="_blank">Mantidae</a>-<strong>red</strong>). Namun dari bentuk fisik yang terlihat, belalang sembah yang baru lahir ini tidak termasuk dari kedua famili tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Serangga ini aktif dan triangular, mata majemuk besar dan terpisah, toraks kecil, sayap depan membentuk <em>tegmina</em>, dan sayap belakang besar, kaki depan untuk memangsa (raptorial). Saya perkirakan, yang terlahir ini adalah <em>mantids</em> yang umum kita lihat berwarna hijau daun. Biasa disebut juga dalam bahasa Inggris sebagai Common praying mantis (<em>Mantis relegiosa</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak <em>tontadak </em>tersebut keluar satu-persatu dari ujung sarang dengan membawa benang (Foto 1). Pertama kali terlihat dalam keadaan kecil, tetapi setelah beberapa menit membesar dua kali badan yang keluar (kurang dari 1 cm). Setelah itu barulah dapat bergerak leluasa meninggalkan koloninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses kelahiran tersebut tidaklah begitu lama. Sebentar saja ratusan mantids keluar satu per satu dari pukul 9–10 pagi. Semua telah selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa keingintahuan saya terhadap serangga ini, membuat saya mencoba membelah sarangnya. Tujuannya untuk melihat ruang yang ada di dalamnya. Ternyata dugaan saya benar, di sana terdapat saluran panjang menuju sebuah lubang pada bagian ujung tempat mereka keluar (Foto 2 sebelah kanan-<strong>red</strong>).</p>
<p><div id="attachment_2374" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/profil-sarang-telur.jpg" ><img class="size-large wp-image-2374  " title="profil-sarang-telur" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/profil-sarang-telur-640x236.jpg" alt="Sarang telur saat masih ditempati anakan (kiri) dan ketika dibuka (kanan)." width="576" height="212" /></a><p class="wp-caption-text">Foto 2. Sarang telur saat masih ditempati anakan (kiri) dan ketika dibuka (kanan).</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Dua hari kemudian, di sekitar tempat penetasan dijumpai beberapa ekor yang telah mendiami teritorialnya sendiri. Dalam dua hari warna tubuhnya sudah terlihat berubah agak kecoklatan. Kemudian di hari ketiga dan keempat sudah mulai kehijauan (Foto 3). Namun pada hari kelima, saya sangat kesulitan menemukan mereka lagi, apakah sudah naik ke pohon yang lebih tinggi, atau dimangsa predator.</p>
<p><div id="attachment_2382" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/anakan-belalang-sembah-setelah-beberapa-hari.jpg" ><img class="size-large wp-image-2382 " title="anakan-belalang-sembah-setelah-beberapa-hari" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/anakan-belalang-sembah-setelah-beberapa-hari-640x270.jpg" alt="Foto 3. Anakan belalang sembah setelah beberapa hari" width="576" height="243" /></a><p class="wp-caption-text">Foto 3. Anakan belalang sembah setelah beberapa hari</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p><div id="attachment_2376" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/belalang-sembah-ys.jpg" ><img class="size-large wp-image-2376 " title="belalang-sembah-ys" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/belalang-sembah-ys-640x248.jpg" alt="Foto 4. Dua jenis belalang sembah yang belum teridentifikasi." width="576" height="223" /></a><p class="wp-caption-text">Foto 4. Dua jenis belalang sembah yang belum teridentifikasi.</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun belum bisa memastikan jenis <em>mantid</em> apa yang saya amati itu, tetapi secara umum yang terlihat saya menduga bahwa belalang sembah tersebut tergolong kepada spesies <em>Mantis relegiousa</em>.</p>
<p>Semoga pengalaman ringan ini dapat bermanfaat bagi insan FOBI.</p>
<p><strong>Teks dan foto</strong> oleh <a href="http://rokan.org/"  target="_blank">Yusri Syam</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fobi.web.id/2012/02/pasukan-tentara-mantids/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sarang Bunglon di Atas Pipa Air Panas Gonoharjo</title>
		<link>http://www.fobi.web.id/2012/01/sarang-bunglon-di-atas-pipa-air-panas-gonoharjo</link>
		<comments>http://www.fobi.web.id/2012/01/sarang-bunglon-di-atas-pipa-air-panas-gonoharjo#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 05:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dona Doni</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Biodversitas]]></category>

		<category><![CDATA[bunglon]]></category>

		<category><![CDATA[gonocephalus chamaeleontinus]]></category>

		<category><![CDATA[Pecinta alam haliaster]]></category>

		<category><![CDATA[sarang]]></category>

		<category><![CDATA[telur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fobi.web.id/?p=2276</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu, sinar matahari pagi yang menyelinap diantara dedaunan pohon pinus memaksa saya untuk segera beranjak dari tenda hangat beralaskan sleeping bag. Waktu menunjukkan tepat pukul 06.00 WIB saat pagi di akhir Februari 2011 itu. Saya ditemani satu teman dari Pecinta Alam Haliaster seketika langsung bersiap-siap berjalan menyusuri Sungai Promasan untuk melakukan pendataan keanekaragaman jenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2277" class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><img class="size-full wp-image-2277 " title="Gonocephalus chamaeleontinus" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/edit.jpg" alt="Gonocephalus chamaeleontinus sedang menggali sarang" width="640" height="480" /><p class="wp-caption-text">Gonocephalus chamaeleontinus sedang menggali sarang</p></div></p>
<p style="text-align: justify; ">Pagi itu, sinar matahari pagi yang menyelinap diantara dedaunan pohon pinus memaksa saya untuk segera beranjak dari tenda hangat beralaskan sleeping bag. Waktu menunjukkan tepat pukul 06.00 WIB saat pagi di akhir Februari 2011 itu. Saya ditemani satu teman dari Pecinta Alam Haliaster seketika langsung bersiap-siap berjalan menyusuri Sungai Promasan untuk melakukan pendataan keanekaragaman jenis burung di salah satu habitat yang ada di Wana Wisata Gonoharjo ini. Di tengah perjalanan pulang, sekitar pukul 09.30 WIB, kami dikejutkan oleh seekor bunglon yang terdiam dan menghentikan aktivitasnya saat sedang menggali tanah. Nampaknya bunglon ini juga terkejut dengan kedatangan dua laki-laki aneh sehingga segera dia menghentikan aktivitasnya dan berkamuflase dengan cara berdiam diri. Melihat bunglon yang terdiam, kamera langsung saya arahkan ke bunglon tersebut. Dengan mudah beberapa gambar telah saya dapatkan, dan nampaknya si bunglon masih beranggapan bahwa penyamarannya dengan berdiam dan merubah warna tubuhnya menjadi gelap belum terbongkar. Melihat pandangan bunglon yang begitu waspada dan ketakutan, akhirnya saya meninggalkan si bunglon dengan harapan dia tidak terganggu dan dapat melanjutkan aktivitasnya kembali.<span id="more-2276"></span></p>
<p><div id="attachment_2278" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2278 " title="Telur Gonocephalus chamaeleontinus" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/telur-320x240.jpg" alt="Telur Gonocephalus chamaeleontinus" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Telur Gonocephalus chamaeleontinus</p></div></p>
<p style="text-align: left;">Selang kurang dari satu minggu, saya bersama Pak Bas dan Deny kembali mendatangi lokasi perjumpaan dengan bunglon yang terlihat sedang menggali tanah beberapa hari yang lalu. Berbekal foto perjumpaan, kami berusaha memastikan lubang yang digali oleh bunglon tersebut karena kami berasumsi bahwa dia telah bertelur. Beberapa waktu menggali tetapi belum juga ditemukan letak pasti ‘sarang’ si bunglon. Saat kami mulai mengambil simpulan bahwa si bunglon batal bertelur, akhirnya saya menemukan ‘sarang’ bunglon tersebut. Terlihat jelas telur berwarna putih tertutup oleh tanah yang berpasir, 4 buah telur terlihat cukup jelas dan kami memperkirakan bahwa masih ada 2-4 telur lagi yang ada di bawah telur yang terlihat. Dengan sangat hati-hati kami menutup kembali sarang bunglon dan berharap posisi telur tidak berubah.</p>
<p><div id="attachment_2281" class="wp-caption alignright" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2281 " title="Gonocephalus chamaeleontinus dewasa" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/gonocephalus-chamaeleontinus-320x240.jpg" alt="Gonocephalus chamaeleontinus dewasa" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Gonocephalus chamaeleontinus dewasa</p></div></p>
<p>Setelah itu kami melakukan identifikasi jenis bunglon tersebut. Hasil identifikasi menyebutkan bahwa si bunglon memiliki nama Bunglon hutan (<em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-aga/gon-cha/"  target="_blank">Gonochephalus chamaeleontinus</a></em>) atau dalam bahasa Inggris biasa disebut <em><em>Tioman Angle-Headed Lizard</em>/<em>Chameleon Forest Dragon</em></em><span>. Ada beberapa referensi yang menyebutkan mengenai sarang dan telur reptil khususnya untuk kelompok bunglon. Kopstein (1938) menyatakan bahwa periode inkubasi telur </span><em>Gonochephalus chamaeleontinus</em><span> 106-119 hari. Das (2010) juga menyatakan bahwa bunglon hutan memiliki jumlah telur 3-6 butir dengan periode inkubasi sekitar 81-119 hari. Sementara berdasarkan para penangkar, </span><em>Gonochephalus chamaeleontinus</em><span> dalam setahun bisa menghasilkan 7 telur dengan masa inkubasi 70-80 hari pada suhu 28 C.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Sementara itu, kondisi sarang Bunglon hutan yang ditemukan di Gonoharjo sungguh sangat menarik. Bunglon hutan menggali sarang dengan material tanah yang bercampur dengan pasir dan kerikil kecil, bejarak 100 cm dari air (saluran irirgasi), dan 10 cm dari jurang. Kedalaman sarang kira-kira 10-15 cm. Lokasi sarang juga tak jauh dari pohon-pohon besar, jarak ke pohon besar terdekat hanya 3 m sehingga kondisi sarang tertutup oleh tajuk pohon yang cukup rapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Satu hal yang paling menarik yaitu bahwa bunglon hutan ini meletakkan sarangnya tepat di atas pipa saluran air panas. Seketika muncul pertanyaan, mengapa bunglon tersebut meletakkan sarangnya tepat diatas pipa air panas? Apakah itu salah satu metode pertahanan bagi sarangnya agar memperoleh suhu optimal bagi telur-telurnya, ataukah hanya suatu kebetulan belaka? Apakah kondisi sarang yang diletakkan di atas pipa air panas memiliki masa inkubasi yang lebih cepat? Kemudian kami memutuskan untuk mencoba mengukur suhu sarang dan di sekitar sarang. Suhu tanah yang berada di sekitar sarang memiliki rata-rata 23,5 C, sementara suhu tanah yang dijadikan sarang 24,5 C, suhu pipa tanpa pembungkus 35 C, dan suhu pipa yang terbungkus pengaman 25 C. Perlu diketahui sarang tadi diletakkan di atas pipa air panas yang terbungkus oleh pelindung, terlihat bahwa suhu tanah pada sarang memeiliki perbedaan dengan suhu tanah yang berada di sekitar sarang. Meskipun selisih antara keduanya hanya 1 C namun kemungkinan besar hal ini sedikit mempengaruhi pemilihan lokasi sarang oleh bunglon.</span></p>
<p><div id="attachment_2279" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2279 " title="Telur pada hari yang ke-70" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/telur-menetas-320x240.jpg" alt="Telur pada hari yang ke-70" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Telur pada hari yang ke-70</p></div></p>
<p>Akhirnya kami pun melakukan monitoring sarang bunglon untuk memastikan seberapa lama masa inkubasi telur bunglon yang ada di sarang sekaligus untuk menjaga sarang bunglon ini, mengingat lokasi sarang yang berada ditepi saluran irigasi dan banyak orang yang melewati tempat ini. Selama monitoring, pernah suatu ketika kami dikejutkan oleh tanah yang berada di sekitar sarang terlihat berantakan, pembungkus pipa, dan sisa potongan pipa pun ikut berantakan. Ternyata baru saja dilakukan perbaikan pipa air panas. Kami langsung bergegas memeriksa lokasi sarang bunglon hutan, dan untung saja telur-telur itu masih ada dan belum bergeser dari lokasinya walaupun ada perbaikan pipa. Sungguh kebetulan yang tak terduga telur-telur itu bisa selamat. Saat memeriksa sarang tersebut, jelas terlihat bahwa telur yang tadinya berwarna putih bersih sekarang mulai berwarna kuning kusut. Waktu itu sekitar 1,5 bulan setelah penemuan sarang bunglon dan ini sudah mendekati masa akhir inkubasi telur.</p>
<p><div id="attachment_2280" class="wp-caption alignright" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2280 " title="Ukuran telur Gonocephalus chamaeleontinus" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/ukuran-telur-320x240.jpg" alt="Ukuran telur Gonocephalus chamaeleontinus" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Ukuran telur Gonocephalus chamaeleontinus</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari yang ke-70 kami mencoba membuka sarang untuk memastikan apakah telur sudah menetas karena kami beranggapan masa inkubasi telur lebih cepat dari yang biasanya. Setelah kami membuka sarang, benar sekali yang kami dapati hanya telur yang sudah berlubang atau mungkin ‘menetas’. Perlahan kami ambil cangkang telur-telur tersebut dan total jumlah telur yang ada yaitu 6 butir. Kami belum tau pasti bagaimanakah kondisi telur bunglon yang menetas karena kamipun belum pernah mendapati telur bunglon sebelumnya. Jika dilihat dari kondisinya yang berlubang di tengah, mungkin saja telur ini menetas. Jika pun benar menetas berarti masa inkubasi bunglon sedikit lebih cepat dari yang biasanya yaitu hanya selama 60-70 hari saja. Segera kami bawa cangkang-cangkang telur ini ke laboratorium untuk diukur dan di awetkan. Telur bunglon ini nampak berbentuk elips dengan ukuran panjang berkisar antara 22-25 mm dan lebar diameter tengah telur 13-14 mm.</p>
<p><div id="attachment_2282" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2282 " title="Gonocephalus chamaeleontinus juvenile" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/juvenile-320x240.jpg" alt="juvenile Gonocephalus chamaeleontinus" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Gonocephalus chamaeleontinus juvenile</p></div></p>
<p>Selain menemukan sarang dari <em>Gonochephalus chamaeleontinus, </em>selama di Gonoharjo setidaknya kami juga 2 kali menemukan 2 ekor juvenile dari bunglon ini yaitu pada awal Maret dan pertengahan Oktober 2011. Juvenile-juvenile ini selalu ditemukan di hutan pinus saat malam pada daun ‘<em>tukulan</em>’ kopi yang berjarak 30-50 dari tanah. Jika dirunut dari masa inkubasi telur, dalam satu tahun setidaknya ada tiga kali masa Bunglon hutan bertelur. Namun, karena bunglon yang bertelur belum tentu bunglon yang sama sehingga dapat diambil satu kesimpulan bahwa jenis Bunglon hutan bertelur sepanjang tahun. Selain juvenile, individu dewasa yang kami temui pun cukup bervariasi, dari yang berwarna hijau muda, tua, bahkan ada yang menunjukkan pola warna kuning tua yang jelas. Selama hampir satu tahun pengamatan di Gonoharjo selain menemukan <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-aga/gon-cha/"  target="_blank">Gonochephalus chamaeleontinus</a>, </em>kami juga menemukan beberapa jenis reptil lain seperti <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-aga/dra-vol/"  target="_blank">Draco volans</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-aga/dra-hae/"  target="_blank">Draco haematopogon</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-aga/bro-jub/"  target="_blank">Bronchocela jubata</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-sci/lip-vit/"  target="_blank">Lipinia vittigera</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-sci/sph-pun/"  target="_blank">Sphenomorphus punticentralis</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-sci/eut-mul/"  target="_blank">Eutropis multifasciata</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-gek/pty-kuh/"  target="_blank">Ptychozoon kuhlii</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-gek/cyr-mar/"  target="_blank">Cyrtodactylus marmoratus</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-gek/hem-pla/"  target="_blank">Hemidactylus platyurus</a></em>, <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-gek/hem-gam/"  target="_blank">Hemidactylus garnotii</a></em>, dan <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/reptil/f-par/apl-boa/"  target="_blank">Apopeltura boa</a></em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Oleh <a href="http://www.fobi.web.id/key/Dona+Doni"  target="_blank">Bagus Dona Doni</a>, <a href="http://haliaster.web.id/"  target="_blank">P.A. Haliaster UNDIP</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fobi.web.id/2012/01/sarang-bunglon-di-atas-pipa-air-panas-gonoharjo/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Baluran Tak Cuma Savana</title>
		<link>http://www.fobi.web.id/2012/01/baluran-tak-cuma-savana</link>
		<comments>http://www.fobi.web.id/2012/01/baluran-tak-cuma-savana#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 14:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kuncen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Biodversitas]]></category>

		<category><![CDATA[lamun]]></category>

		<category><![CDATA[laut]]></category>

		<category><![CDATA[seagrass]]></category>

		<category><![CDATA[Taman Nasional Baluran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fobi.web.id/?p=2219</guid>
		<description><![CDATA[Taman Nasional Baluran itu identik dengan savanna, banteng, serta hutan musim dan hutan evergreen-nya. Hal itu dapat dengan mudah diketahui dari banyaknya tulisan di majalah maupun media cetak lain. Padahal Baluran itu ndak hanya cantik di atasnya, tapi ia juga cantik di dunia bawah airnya.
Salah satunya ditandai dengan masih baiknya keanekaragaman hayati yang terdapat di padang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_2257" class="wp-caption aligncenter" style="width: 810px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/lamun-bama-fm.jpg" ><img class="size-full wp-image-2257" title="lamun-bama-fm" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/lamun-bama-fm.jpg" alt="Padang lamun Pantai Bama, Taman Nasional Baluran. Foto oleh Farid Muzaki" width="800" height="456" /></a><p class="wp-caption-text">Padang lamun Pantai Bama, Taman Nasional Baluran. Foto oleh Farid Muzaki</p></div></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://balurannationalpark.web.id/"  target="_blank">Taman Nasional Baluran</a> itu identik dengan savanna, banteng, serta hutan musim dan hutan <em>evergreen</em>-nya. Hal itu dapat dengan mudah diketahui dari banyaknya tulisan di majalah maupun media cetak lain. Padahal Baluran itu<em> ndak</em> hanya cantik di atasnya, tapi ia juga cantik di dunia bawah airnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satunya ditandai dengan masih baiknya keanekaragaman hayati yang terdapat di padang lamun Taman Nasional Baluran. Seperti yang saya alami di padang lamun Pantai Bama. Tempat itu bisa membuat orang ketagihan <em>snorkling</em> di saat airnya pasang, atau jalan-jalan santai saat air laut surut.<span id="more-2219"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri belum terlalu sering <em>ngubek-ube</em>k padang lamun Baluran. Paling cuma di seputar Pantai Bama dan sekitarnya sampai ke blok Popongan saja. Dari mulai pertama kali <em>nyemplung</em> di Pantai Bama di akhir tahun 2008, sampai sekarang saya masih agak cukup sering ke sana. Minimal dua kali dalam setahun. Dalam beberapa kali kunjungan itulah saya melihat bahwa biodiversitas fauna akuatik di Bama sungguh luar biasa. Baik dari ikan, <em>crustacea</em>, <em>mollusca</em>, <em>echinodermata</em>, <em>sponge</em> dan juga <em>cnidaria</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Antara periode 2008-2011 itu, saya mencatat bahwa sedikitnya terdapat 110 spesies ikan yang <em>sliweran</em> di terumbu karang dan padang lamun Bama. Kemudian ada 25 spesies <em>echinodermata</em>, 28 spesies <em>crustace</em>a dan 54 spesies<em> mollusca</em>. Angka-angka tersebut masih minimal, karena saya yakin sebenarnya masih banyak sekali spesies biota yang belum teramati oleh saya. Terutama sekali <em>crustacea</em> dan <em>mollusca</em>. Untuk dua filum tersebut, yang teramati dan teridentifikasi baru spesies yang ukurannya cukup besar, sementara yang imut-imut belum (termasuk yang epifit dan asosiasi lamun).</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya saya memulai pengamatan biota dari garis pantai. Sebentar saja berjalan macam-macam jenis siput, teripang, kepiting dan udang-udangan sudah menyambut. Mungkin yang paling mudah ketemu salah satunya adalah si teripang <a href="http://www.fobi.web.id/v/echinodermata/f-hol/hol-atr/"  target="_blank"><em>Holothuria atra</em></a> yang bentuknya <em>naudzubillah</em> itu. Bulat panjang, ginjur-ginjur menggelikan dan warnanya hitam pula. Kalau terinjak atau <em>kepencet</em>, keluar air dari mulutnya.</p>
<p><div id="attachment_2187" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2187" title="Holothuria atra" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/holothuria-atra_baluran_fm-320x229.jpg" alt="Holothuria atra yang tertutupi pasir halus" width="320" height="229" /><p class="wp-caption-text">Holothuria atra yang tertutupi pasir halus</p></div></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di antara daun-daun lamun juga cukup sering ditemui <a href="http://www.fobi.web.id/v/echinodermata/f-syn/syn-mac/"  target="_blank"><em>Synapta maculata</em></a>. Sekilas teripang ini seperti tidak &#8220;berdaging&#8221;. Kalau diangkat dari air jadi kempis, tapi langsung gemuk lagi kalau dicelupkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Echinodermata lain yang cukup melimpah adalah bintang laut <a href="http://www.fobi.web.id/v/echinodermata/f-arc/arc-typ/"  target="_blank"><em>Archaster typicus</em></a>. Sebarannya terutama di depan mangrove Pantai Bama yang hanya sedikit ditumbuhi lamun. Individu-individu bintang laut tersebut sering tampak bertumpuk-tumpuk, yang menandakan lagi <em>mating</em> alias kawin. Bintang laut lain yang mencolok adalah si biru <a href="http://www.fobi.web.id/v/echinodermata/f-oph/lin-lae/"  target="_blank"><em>Linckia laevigata</em></a> berlengan lima. Jika sedang beruntung, kadang-kadang juga ketemu sama yang lengannya cuma 4, atau malah 6, dan bahkan 7 lengan.</p>
<p><div id="attachment_2188" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2188" title="Archaster typicus" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/archaster-typicus_baluran_fm-320x240.jpg" alt="Archaster typicus. Foto oleh Farid Muzaki" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Archaster typicus</p></div></p>
<p><div id="attachment_2189" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2189" title="Linckia laevigata" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/linckia-laevigata_baluran_fm-320x240.jpg" alt="Linckia laevigata abnormal yang hanya berlengan empat" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Linckia laevigata abnormal yang hanya berlengan empat</p></div></p>
<p style="text-align: justify;">Dari grup <em>Crustacea</em>, paling mudah bertemu dengan <a href="http://www.fobi.web.id/v/crustacea/f-por/tha-cre"  target="_blank">rajungan hijau (<em>Thalamita crenata</em>)</a>, terutama saat malam hari. Kemudian ada juga kelomang (<em>Diogenes</em> spp), udang-udang <em>Palaemonidae</em>, <em>Menaethiu</em>s, <em>Liomera</em>, <em>Atergatis</em>, <em>Eriphia</em> dan lain-lain. Nah, sedikit tips dari saya, bila ingin ketemu dengan crustacea unik dan imut, cobalah untuk meng-<em>utek-utek</em> anemon laut atau soft coral yang ukurannya cukup besar. Di sela-sela tentakelnya biasanya ada kepiting <em><a href="http://www.fobi.web.id/v/crustacea/f-poc/neo-mac/"  target="_blank">Neopetrolisthes maculatus</a> </em>yang bertotol-totol merah atau udang <a href="http://www.fobi.web.id/v/crustacea/f-pae/per-bre/"  target="_blank"><em>Periclimenes brevicarpalis</em></a> dan <a href="http://www.fobi.web.id/v/crustacea/f-hyp/tho-amb/"  target="_blank"><em>Thor amboinensis</em></a>. Mereka terlihat sangat cantik.</p>
<p><div id="attachment_2190" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2190" title="Neopetrolisthes maculatus" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/neopetrolisthes-maculatus_baluran_fm-320x238.jpg" alt="Neopetrolisthes maculatus menyembul di sela-sela tentakel anemon laut. Foto oleh Farid Muzaki" width="320" height="238" /><p class="wp-caption-text">Neopetrolisthes maculatus menyembul di sela-sela tentakel anemon laut</p></div></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Lanjut lagi, bila beruntung kita bisa ketemu dengan siput imut berwarna-warni alias <em>nudibranch</em>, seperti <a href="http://www.fobi.web.id/v/mollusca/f-phy/phy-var/"  target="_blank"><em>Phyllidia varicosa</em></a> dan <a href="http://www.fobi.web.id/v/mollusca/f-phy/phy-pus/"  target="_blank"><em>Phyllidiella pustulosa</em></a>. Jenis gastropod ukuran besar dengan warna menarik juga melimpah. Contoh yang mudah ditemui adalah <a href="http://www.fobi.web.id/v/mollusca/f-cyp/cyp-tig/"  target="_blank"><em>Cypraea tigris</em></a>, <em>Conus marmoreus</em> dan <a href="http://www.fobi.web.id/v/mollusca/f-con/con-lit/"  target="_blank"><em>Conus litteratus</em></a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Terakhir, saya ingin membagi sedikit renungan-renungan saya. Meskipun diversitas faunanya luar biasa, secara visual saya melihat bahwa di waktu akhir-akhir ini (2010-2011) tampaknya terjadi penurunan kelimpahan jenis-jenis tertentu. Utamanya spesies yang berukuran sedang hingga besar. Sehingga saya sempat merasa sensasi ramainya padang lamun Bama tidak lagi seperti dulu. Meski demikian, saya masih merasa bahwa padang lamun Pantai Bama dan pesisir Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya area padang lamun dengan kondisi baik yang tersisa di pesisir Jawa timur.</p>
<div id="attachment_2191" class="wp-caption alignright">
<p class="wp-caption-text">
</div>
<p><div id="attachment_2191" class="wp-caption alignright" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2191 " title="Phyllidiella pustulosa" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/phyllidiella_pustulosa_sw_001-320x232.jpg" alt="Phyllidiella pustulosa si siput telanjang. Foto oleh Swiss Winasis" width="320" height="232" /><p class="wp-caption-text">Phyllidiella pustulosa si siput telanjang. Foto: SW</p></div></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Nah, agar kita bisa turut menjaga ekosistem padang lamun, sebaiknya kunjungan ke tempat tersebut dilakukan dengan cara <em>snorkling</em> saat air laut pasang. Sehingga tidak langsung menginjak tegakan lamun dan juga tidak menginjak biota yang hidup dan ber-<em>sliweran</em> di antaranya. Jika terpaksanya melakukan kunjungan saat surut, sangat disarankan untuk hati-hati dalam melangkah. Pilih area yang tidak bervegetasi sebagai pijakan kaki sehingga tidak mencelakai biota dan diri sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Demikian pengantar pengamatan ekosistem padang lamun dari saya. Selamat mengamati dan salam biodiversitas.</p>
<p><div id="attachment_2192" class="wp-caption aligncenter" style="width: 284px"><img class="size-medium wp-image-2192" title="Cypraea tigris" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/cypraea-tigris_baluran_fm-274x240.jpg" alt="Cypraea tigris" width="274" height="240" /><p class="wp-caption-text">Cypraea tigris</p></div></p>
<p><div id="attachment_2193" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><img class="size-medium wp-image-2193" title="Conus litteratus" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/conus-litteratus_baluran_fm-320x238.jpg" alt="Conus litteratus yang cukup mudah ditemui" width="320" height="238" /><p class="wp-caption-text">Conus litteratus yang cukup mudah ditemui</p></div></p>
<p class="MsoNormal">Teks oleh <strong><a href="http://faridmuzaki.blogspot.com/" target="_blank">Farid Muzaki<br />
</a></strong>Foto oleh <strong><a href="http://intertide.wordpress.com/"  target="_blank">Farid Muzaki</a></strong> dan <strong><a href="http://pratapapa81.wordpress.com/"  target="_blank">Swiss Winasis</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fobi.web.id/2012/01/baluran-tak-cuma-savana/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Teknik dan Analisis Suara Burung</title>
		<link>http://www.fobi.web.id/2011/12/workshop-teknik-dan-analisis-suara-burung</link>
		<comments>http://www.fobi.web.id/2011/12/workshop-teknik-dan-analisis-suara-burung#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 04:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imam</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>

		<category><![CDATA[Biolaska UIN]]></category>

		<category><![CDATA[PPBJ]]></category>

		<category><![CDATA[suara burung]]></category>

		<category><![CDATA[workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.fobi.web.id/?p=2204</guid>
		<description><![CDATA[
“Teknik Analisis Suara Burung dalam Upaya Konservasi Burung di Indonesia”
Burung merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan dengan anugerah yang luar biasa. Banyak di antaranya yang memiliki warna menarik maupun kebiasaan unik. Termasuk juga suara yang khas dan indah, yang bagi para pemerhatinya kesemua itu berguna dalam membantu mengenali dan mengidentifikasi tiap-tiap jenis burung yang ada.
Sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">
<p><div id="attachment_2205" class="wp-caption aligncenter" style="width: 180px"><a href="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/uin.jpg" ><img class="size-medium wp-image-2205" title="Poster workshop" src="http://www.fobi.web.id/bi/wp-content/uploads/uin-170x240.jpg" alt="Poster Workshop " width="170" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Poster Workshop </p></div></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Teknik Analisis Suara Burung dalam Upaya Konservasi Burung di Indonesia”</strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Burung merupakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan dengan anugerah yang luar biasa. Banyak di antaranya yang memiliki warna menarik maupun kebiasaan unik. Termasuk juga suara yang khas dan indah, yang bagi para pemerhatinya kesemua itu berguna dalam membantu mengenali dan mengidentifikasi tiap-tiap jenis burung yang ada.<span id="more-2204"></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Sebagai satu cara mengenali jenis, pengetahuan tentang suara burung merupakan suatu nilai lebih karena tidak semua burung dapat dijumpai secara langsung. Suara burung itu sendiri memiliki nada dengan nilai frekuensi yang berbeda apabila diolah menggunakan program pembaca frekuensi suara. Progam tersebut mengubah suara burung dalam bentuk sonogram dengan sajian penunjuk berupa angka yang berbeda dari setiap jenis yang berbeda, sehingga sangat penting untuk dipelajari dan diketahui. Hasil pengolahan suaranya dapat digunakan untuk membantu upaya konservasi burung yang ada di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify; "><span> </span>Pada kesempatan ini Biologi Pecinta Alam UIN SUKA (BIOLASKA) bersama Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) berupaya membantu proses penyadartahuan mengenai pentingnya pengolahan suara burung dalam <strong>“WORKSHOP TEKNIK DAN ANALISIS SUARA BURUNG”</strong>. Agenda kegiatan ini akan berlangsung pada:</p>
<p style="text-align: justify; ">Hari/Tanggal: <strong>Jum&#8217;at-Sabtu, 16-17 Desember 2011 </strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Tempat: Teatrikal Fakultas Saintek, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta</p>
<p style="text-align: justify; "><strong> Deskripsi acara</strong></p>
<p style="text-align: justify; ">16 Desember 2011, mulai jam: 14.00 WIB s/d selesai</p>
<ul>
<li>Materi mengenai burung dan pengantar teknik analisis suara burung oleh <strong>Pramana Yuda, Ph.D</strong> (Presiden Indonesian Ornitologists&#8217; Union-IdOU).</li>
<li>Materi pengantar teknik analisis suara burung akan disampaikan oleh <strong>Karyadi Baskoro, M.Si</strong> (Semarang Bird Comunity-SBC)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify; ">17 Desember 2011, mulai jam: 06.00 WIB s/d selesai</p>
<ul>
<li>Praktek teknik perekaman suara burung</li>
<li>Pengolahan dan analisa suara, dipandu oleh <strong>Karyadi Baskoro, M.Si</strong> (Semarang Bird Comunity-SBC)</li>
</ul>
<div style="text-align: justify; "><strong>Pendaftaran</strong></div>
<div style="text-align: justify; ">Pendaftaran kegiatan dapat dilakukan dengan cara:</div>
<div style="text-align: justify; ">Ketik: nama lengkap_instansi</div>
<div style="text-align: justify; ">Kirim ke: <strong>08195181788</strong> (Tutut) atau <strong>085725925792</strong> (Dini).</div>
<div style="text-align: justify; ">Paling lambat 15 Desember 2011</div>
<div style="text-align: justify; "><strong>*Peserta diharapkan membawa laptop dan alat perekam suara</strong></div>
<div style="text-align: justify; "><strong>Biaya dan fasilitas</strong></div>
<div style="text-align: justify; ">Biaya: Rp. 25.000,-</div>
<div style="text-align: justify; ">Fasilitas:</div>
<div style="text-align: justify; ">1. Sertifikat</div>
<div style="text-align: justify; ">2. Makalah</div>
<div style="text-align: justify; ">3. Stiker</div>
<div style="text-align: justify; ">4. Software program analisa suara</div>
<div style="text-align: justify; ">5. Konsumsi</div>
<div style="text-align: justify; ">Untuk informasi lebih lanjut dapat melalui</div>
<div style="text-align: justify; ">CP: 08195181788 (Tutut) atau 085725925792 (Dini)</div>
<div style="text-align: justify; ">blog: <a href="http://biolaska1906.blogspot.com/"  target="_blank">biolaska</a></div>
<div style="text-align: justify; ">email: biolaska_jaya@ymail.com</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.fobi.web.id/2011/12/workshop-teknik-dan-analisis-suara-burung/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

