Dirgahayu Kemerdekaan RI 68

Xylocopa latipes - Salem 1







FOBI - Foto Biodiversitas Indonesia

Situs
Basisdata
Foto
dan
Komunitas
Pemerhati
Keanekaragaman
Hayati
Indonesia

Cabai, Si Petani Benalu

Cabai jawa jantan dengan buah benalu yang siap dimakan.

Cabai jawa jantan dengan buah benalu yang siap dimakan.

Burung cabai doyan makan buah. Namun, ukuran tubuhnya yang hanya sekepalan tangan bayi membuatnya hanya bisa memilih yang seukuran kelereng, talok misalnya.

Buah persembahan dari pohon bernama ilmiah Muntingia calabura itu salah satu favorit si cabai. Buahnya yang bulat dan merah menyala memang menggiurkan, mengundang siapa saja untuk mencicipi. Banyak orang suka, termasuk saya. Tapi sekarang saya terima mengalah tidak makan talok. Biar buat burung cabai saja. Saya beralih ke durian, nangka, salak, rambutan, atau yang seukuran lainnya.

Selain talok, burung-burung cabai juga gemar benalu. Untuk yang satu ini, si cabai layak mendapat predikat sebagai petani benalu. Dialah yang paling berperan dalam menyebarkan tanaman parasit itu.

Mungkin banyak sekali jenis benalu yang jadi kegemaran pak tani imut ini. Namun, saya belum pernah secara khusus mendokumentasikan, mempelajari atau mengamatinya benar-benar. Hanya dari beberapa kali melihat pada jenis yang dikunjungi oleh cabai jawa Dicaeum trochileum.

Jenis benalu ini cukup umum dijumpai. Daunnya hijau tua berbentuk bulat telur. Bunganya kuning, kalau sudah tua jadi coklat berbulu dan mirip pin boling. Semakin tua, bentuknya jadi panjang menyulur. Kalau dari mencocokkan gambar, sepertinya benalu ini bernama Dendropthoe pentandra, anggota famili Loranthaceae (mohon koreksi kalau saya salah).

Bunga benalu yang telah tua.

Bunga benalu Dendropthoe pentandra yang telah tua.

Cabai jawa betina siap melahap bunga benalu yang masak.

Cabai jawa betina siap melahap bunga Dendropthoe pentandra yang masak.

Buah Dendropthoe pentandra dengan warna kuning berbentuk bulat telur.

Buah Dendropthoe pentandra dengan warna kuning berbentuk bulat telur.

Buahnya berbentuk bulat telur, seperti versi kuning dari melinjo. Dia bisa menempel di pohon bunga kupu-kupu, beringin atau yang lain. Sebenarnya penasaran juga dengan rasanya. Andai bisa saya raih, mungkin akan saya cicip barang satu dua. Hehe..

Ada benalu lain yang bunganya panjang, berwarna kuning cerah. Membentuk rumpun yang cukup indah dilihat. Saya menjumpainya di daerah pesisir Pagak (Purworejo) dan juga Kaliurang. Benalu tersebut cukup banyak, menempel di pohon mangga. Saya tidak berhasil mendokumentasikan pak tani cabai yang datang ke benalu yang juga saya tidak tahu namanya ini. Namun, suara si pak tani terdengar di sekitar, mungkin sedang berkunjung di rumpun benalu yang banyak tumbuh di sekitaran. Atau benalu ini Dendropthoe pentandra juga?

Benalu kuning dengan bunga panjang. Anda bisa membantu saya mengidentifikasi jensinya?

Benalu kuning dengan bunga panjang. Anda bisa membantu saya mengidentifikasi jensinya?

Saat pak tani cabai memakannya, biji dari buah benalu-benalu tersebut tidak ikut hancur tercerna. Biji akan keluar bersama kotoran, menempel pada dahan-dahan pohon yang disinggahi si cabai. Kemudian, biji akan berkecambah, mengeluarkan akar isap yang dikenal dengan sebutan haustorum. Lalu tumbuhlah tanaman baru, tanda kesuksesan pak tani dalam bercocok tanam.

Proses penyebaran semacam itu dikenal dengan istilah ornithokori. Sekali waktu coba perhatikan pepohonan yang ada di sekitaran. Bila banyak tumbuh benalu di sana, pak tani cabai ini pelaku utamanya.

Teks dan foto oleh Imam T.

Did you like this? Share it:

Menjadi Peneliti Bermodal Smartphone

Pada bulan Mei 2010 silam, di Markas Militer Balad, utara Baghdad, Irak, seseorang membawakan seekor katak yang dibungkus plastik kepada seorang sersan bernama  Jonathan Trouern-Trend. Katak ini ditemukan bersembunyi sebuah toilet. Trouern-Trend yang dikenal sebagai seorang ahli identifikasi biologi itu pun mengambil foto si katak lalu mengungahnya melalui aplikasi ponsel pintar iNaturalist. iNaturalist adalah komunitas global tempat orang-orang melaporkan temuan flora dan fauna. Baca selanjutnya…..

Did you like this? Share it:

Pengamatan Burung di Hari Batik (BUHARTI)

Poster BUHARTI

Poster BUHARTI

Peringatan Hari Batik setiap tanggal 2 Oktober mencerminkan arti penting batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi dalam mewujudukan kecintaan pada warisan luhur ini, serta wujud nyata kepedulian terhadap satwa burung, maka pada setiap peringatan Hari Batik tersebut Pengamat Burung Indonesia (PENGABDI) melakukan kegiatan pengamatan burung dengan berbatik secara serentak bertajuk Pengamatan Burung di Hari Batik (BUHARTI).

Dalam kegiatan ini PENGABDI mengajak Anda untuk turut serta dengan mengamati burung di mana pun, baik di rumah, sekolah, kantor, taman kota, maupun kawasan konservasi yang ada, lengkap dengan pakaian batik terbaik yang Anda miliki. Catat setiap jenis dan jumlah individu burung yang teramati dalam form pengamatan yang dapat ANda unduh di tautan berikut: FORM BUHARTI.

Kirim form hasil pengamatan dan foto Anda pengamatan ke orny_man@yahoo.com. Anda pun dapat mengirimkan cerita pengalaman Anda dalam kegiatan ini dan mari terlibat dalam mewujudkan kecintaan pada batik dan burung.

Did you like this? Share it:

Anggrek Tanah Ungaran, Sebuah Berkah di Bulan Ramadhan

Hetaeria cristata, salah satu anggrek tangah yang berbunga

Hetaeria cristata, salah satu anggrek tangah yang berbunga. Foto oleh Lutfian nazar

Bulan puasa itu penuh berkah. Begitu yang sering dikatakan ulama di masjid-masjid atau pengajian yang kini menjamur di televisi. Kami pun mengamininya.

Buat kami, salah satu berkah itu adalah menjumpai beraneka rupa bunga anggrek tanah. Sepanjang Juli di bulan puasa ini, kami selalu merayakan akhir pekan di hutan Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Blusukan ke Gunung Gentong dan Gajah Mungkur menyusuri jalan setapak para petani kopi. Sesekali kami mengunjungi sepenggal hutan yang masih belum terambah tanaman penghasil minuman hitam itu, tentu saja untuk mencari anggrek yang sedang berbunga.

Selama penelurusan, kami tidak banyak menemukan anggrek epifit yang berbunga. Akan tetapi, dari yang sedikit itu ada sesuatu yang istimewa bagi mata pemuja cinta. Bulbophyllum lobii, anggrek dengan perbungaan tunggal, berwarna oranye kekuningan bergaris-garis kemerahan dengan bunga mencapai 10 cm. Kami menemukannya bermekaran di pohon tumbang yang melintang di jalan setapak. Anggrek ini sering disebut dengan anggrek kuku macan, dikarenakan ketika bunganya belum mekar, bentuknya seperti kuku macan. Selain Bulbophyllum lobii, anggrek epifit yang sedang berbunga dan sering sekali kami jumpai adalah Coelogyne speciosa.

Namun pertunjukan sebenarnya bukanlah anggrek-anggrek epifit itu, melainkan beragam anggrek tanah yang tumbuh di sela-sela tanaman kopi dan pinggiran jalan setapak. Selama periode Juni hingga Juli, kami telah menemukan 13 spesies yang berbunga, disertai beberapa spesies yang belum berbunga. Tentu saja ini sangat menggembirakan, membuat kami berbunga-bunga layaknya remaja jatuh cinta.

Tiga belas spesies anggrek tanah  tersebut terdiri dari 9 genus. Berturut-turut, yaitu Goodyera, Tainia, Hetaeria, Calanthe, Apendiculla, Erythrodes, Zeuxine, Macodes dan Phaius. Dari yang kami temukan itu, ada dua spesies yang belum teridentifikasi hingga tingkat jenis.

Genus Goodyera diwakili oleh Goodyera reticulata dan Goodyera grandis. Dari genus Tainia, kami menemukan tiga jenis, yaitu Tainia speciosa, Tainia malayana, dan Tainia sp. Sedangkan yang lainnya masing-masing diwakili oleh satu jenis, yaitu Calanthe triplicata, Appendicula alba, Erythrodes sp, Zeuxine gracilis, Macodes petola dan Phaius pauciflorus.

Bunga Goodyera grandis yang cantik.

Bunga Goodyera grandis yang cantik. Foto oleh Misbahul Munir

Appendicula alba

Appendicula alba dengan bunga putihnya. Foto oleh Lutfian nazar

Menariknya, musim berbunga dari masing-masing anggrek tersebut berbeda dengan informasi dalam Orchids of Java (Comber, 1990). Di situ tertulis bahwa anggrek-anggrek yang kami temukan kebanyakan berbunga pada bulan Agustus hingga Februari. Goodyera grandis yang menjadi pengecualian karena berbunga pada bulan Juli.

Mencermati foto-foto Mbah Comber, spesies-spesies tersebut kebanyakan memang didapatkan dari daerah Jawa bagian barat dan timur. Bisa dikata simbah jarang blusukan di Jawa bagian tengah. Dengan kemungkinan habitat dan iklim mikro yang berbeda, masa berbunga dari anggrek-anggrek tersebut boleh jadi berbeda. Meski ini hanyalah analisa dangkal yang bisa kami pikirkan, namun temuan di Gunung Ungaran tersebut dapat menjadi informasi tambahan. Analisa selanjutnya perlu didiskusikan dengan para ahli yang lebih tahu akan dunia per-anggrek-an.

Tainia malayana

Tainia malayana yang membuat kami berbunga-bunga. Foto oleh Lutfian Nazar

Tainia speciosa dengan bunganya yang menarik. Foto oleh Lutfian Nazar

Tainia speciosa dengan bunganya yang menarik. Foto oleh Lutfian Nazar

Dalam khayalan kami, 13 anggrek tanah itu berjejeran membentuk formasi. Mereka berbunga berbarengan layaknya taman dalam hutan yang anggun dan syahdu. Aih, Tuhan memang Maha Uye dan akhir pekan memang patut untuk dirayakan. Semoga Anda pun begitu.

Teks oleh Lutfian Nazar

Foto oleh Lutfian Nazaar dan Misbahul Munir

Did you like this? Share it:

Penggalan Kecil Kehidupan si Mungil

Sepasang Nannophya pygmaea yang hinggap di sebatang kayu. Jantan berwarna merah dan hitam, sementara betina terlihat belang-belang.

Sepasang Nannophya pygmaea yang hinggap di sebatang kayu. Jantan berwarna merah dan hitam, sementara betina terlihat belang-belang.

Saat blusukan di pedalaman Kalimantan, saya menjumpai capung yang menarik perhatian. Namanya Nannophya pygmaea. Berukuran mungil, namun punya warna yang “berani”. Saya pun mencoba sedikit berlama-lama mengintip kehidupannya.

Dalam sub-ordo Anisoptera (capung biasa), si mungil ini menjadi salah satu yang terkecil di dunia. Nama yang tersemat padanya menegaskan itu. Nannophya, dari bahasa Yunani, juga pygmaea, kata Latin, memiliki pengertian yang sama. Artinya, berukuran kecil, kerdil, mini. Sebagai perbandingan, ukuran tubuhnya kira-kira hanya sepanjang satu ruas jari orang dewasa.

Capung jantan berwarna dominan merah dengan corak hitam di bagian thoraks (dada) dan mata. Paduan warna yang mengingatkan saya pada cabai rawit. Sementara sang betina berpenampilan jauh berbeda. Ia berukuran lebih kecil dan terlihat belang dengan paduan warna coklat, hitam dan putih gading. Namun meski berwarna lembut, ia tetap semenarik sang pejantan.

Si merah-hitam ini hidup di dekat tanaman air pinggiran danau, pada perairan yang beraliran tenang atau kubangan-kubangan yang warna airnya mengingatkan saya pada teh celup. Jumlahnya cukup melimpah dengan jantan hadir mendominasi, sementara betina jarang terlihat.

Saat ada pasangan yang kawin, pejantan lain siap menunggu untuk merebut sang betina.

Saat ada pasangan yang kawin, pejantan lain siap menunggu untuk merebut sang betina.

Saat mendapati adanya aktifitas perkawinan, saya melihat hanya ada satu betina yang diperebutkan oleh beberapa jantan. Sepertinya sang betina bisa dikawini oleh beberapa pejantan bergantian. Tentu saja sang jantan harus mendapatkannya dengan cara rebutan.

Setelah seekor pejantan bisa “menangkap” sang betina, mereka akan hinggap dan kawin. Pejantan lain ikut hinggap atau terbang di dekat pasangan yang tengah kawin itu, siap merebut.

nannophya-pygmaea-betina_it

Betina yang berpenampilan cantik. Memang pantas ia jadi rebutan.

Bila proses perkawinan selesai, betina akan melepaskan telur-telur yang telah dibuahi dengan cara mengibas-ngibaskan ujung abdomennya ke permukaan air sebagaimana capung pada umumnya. Pejantan akan terbang menjaga di dekat sang betina. Setelah selesai, betina akan hinggap. Seketika betina terbang, perebutan kembali terjadi. Mungkin akan terjadi perkawinan lagi antara sang betina dengan pejantan yang lain. Perilaku yang unik.

Sebagai pemangsa serangga-serangga kecil, si mungil Nannophya pun sekali waktu jatuh sebagai mangsa. Satu kali saya mendapati seekor jantan yang telah tak berdaya dalam cengkeraman laba-laba Oxyopes sp. Sepertinya memang demikian kehidupan si mungil di rawa dengan air berwarna teh celup itu. Meski rumit, sesekali penggalan-penggalannya tertangkap mata.

Seekor Nannophya pygmaea jantan dalam cengkeraman laba-laba Oxyopes sp

Seekor Nannophya pygmaea jantan dalam cengkeraman laba-laba Oxyopes sp.

IT

Did you like this? Share it:
Page 1 of 1812345»...Last »