Antara Semut Hitam dan Tawon Penambang Tanah
Di sebuah hari Minggu yang cerah bertanggal 21 Januari 2012, saya asyik memperhatikan tanah. Tepatnya tawon tanah yang sedang membuat sarang. Ia menggali tanah menggunakan kekuatan “tangan” bagian depan, membulatkan tanah itu untuk kemudian ditarik keluar dengan cara memundurkan badan. Ternyata setelah melakukan berulang kali, lubang yang berhasil dibuat mencapai kedalaman satu jengkal tangan orang dewasa. Lubang sarang tersebut digunakannya sebagai lokasi berkembang biak. Mungkin menurutnya merupakan tempat teraman untuk menaruh anak-anaknya.
Tak jauh dari aktifitas sang “penambang tanah” itu, hiduplah sekelompok semut hitam dengan ukuran panjang kurang lebih 1 cm. Si semut juga memiliki perilaku bersarang di dalam tanah dan mencari makan apa saja di sekitar sarang. Pakannya bisa berupa buah-buahan, bangkai, hingga serangga lain. Hebatnya, para semut tidak peduli dengan ukuran besarnya para pakan. Selama pakan itu bisa ditaklukan bersama-sama, maka nikmati saja.
Suatu saat, semut hitam yang telah lama melihat tawon menggali tanah mengusik sang tawon. Tidak jelas apa alasannya. Mungkin sang semut pernah sakit hati karena tawon pernah mengganggu sarangnya atau terganggu oleh bisingnya suara tawon. Entahlah, saya tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, tawon memang merupakan salah satu variasi makanan dari koloni semut hitam.
Di saat tawon sedang lengah, seekor semut hitam menangkap kaki belakang tawon dan berpegang erat pada rumput (Foto 2). Dengan berontak tawon berusaha melepas pegangan semut. Yang menarik, ketika diperhatikan dengan seksama, saat semut menggigit ia terlihat mengeluarkan cairan dari mulutnya. Saya tidak tahu persis, apakah itu bisa atau semacam senjata pelumpuh lawan lainnya.
Kaki belakang tawon diincar oleh semut sepertinya karena semut tahu bahwa tawon memiliki kekuatan pada kaki depan. Sebab semut sering melihat sang tawon menambang tanah menggunakan kaki depannya itu. Sehingga sebagai sesama penambang tanah ia tentu tahu betul mana bagian yang menjadi kuat karena “berprofesi” sebagai penambang tanah itu.
Sewaktu sayap tawon bergetar menyentuh rumput, semut lainnya segera bereaksi membantu. Namun terlihat juga tetap ada yang takut dan mencari bala bantuan lain. Terlihat seekor semut hitam muda yang dalam pengamatan saya mencoba menangkap kaki depan, tetapi kemudian terpental oleh tendangan dan gigitan sang tawon. Di sisi lain kedatangan seekor semut hitam dewasa mengincar dari atas rumput langsung naik ke kepala tawon (Foto 3). Ia langsung menggigiti antena tawon tiada ampun dan tak terlepaskan. Setelah itu tawon mulai kehilangan kontrolnya.
Akhirnya akibat dua strategi penangkapan kaki dan antena, berhasil melemahkan tawon. Selebihnya kerjasama semut-semut hitam lainnya mulai mengutak-atik tawon sesuka hati. Hingga dalam waktu setengah jam tawon semakin melemah. Satu jam berikutnya semua kaki dan sayap sudah selesai dipreteli. Di titik inilah terjadi ruang dan waktu pembelajaran menyerang bagi para semut hitam muda (Foto 4).
Sayangnya, setelah peristiwa itu saya sempat pergi sebentar meninggalkan TKP (Tempat Kejadian Peristiwa). Dimana seekor burung berebah terlihat turun mendekati arena perkelahian. Saya pun tidak sempat mendokumentasikannya. Akhirnya terlihat burung terbang pergi membawa bagian terbesar dari tubuh tawon.
Berakhirlah pengamatan saya selama 2 jam dengan membawa hasil akhir, dua nyawa tawon melayang diserang semut hitam dan satu satwa mendapat keuntungan terbesar. Satwa itu adalah burung berebah yang mendapatkan tubuh tawon. Sedangkan para semut mendapat jatah kaki dan sayap. Mudah-mudahan bagian itu sudah cukup bagi semut untuk melampiaskan sakit hatinya..
Catatan tambahan:
Saya sempat melihat koloni semut memangsa kepompong Sphingidae. Dimana beberapa jam sebelumnya, kepompong Sphingidae ini selalu membuat sarang di tanah dengan hanya bantuan beberapa sampah yang dirajut dengan benang. Lalu terlihat juga beberapa semut hitam memakan buah pepaya masak yang telah jatuh dua hari sebelumnya. Semut-semut itu bersama serangga lainnya asik menyantap pepaya dengan pandangan yang saling curiga dan mawas diri satu sama lainnya (Foto 5). Setelah itu saya sempat mencari kemana mereka membawa makanannya. Ternyata ketemulah sebuah lubang dengan diameter 3 mm. Itulah sarang semut-semut hitam.










Great work.
Pengamatan yang menarik Pak Yusri. Sampai bisa menjelaskan kronologinya…
Oiya, saya jadi pingin tahu nama ilmiah dari spesies-spesies di artikel ini. Apa saja ya?
tq. mas.. wah saya ngak tau nama ilmiahnya, kalau tahu sudah saya cantumkan di artikel
observasi bang Yusri selalu memiliki originalitas yang bagus. mantab bang! wak geng pokoknya