Menyusuri Jejak Kedidi Putih di Indonesia

Kedidi Putih di Pantai Trisik, Kulon Progo, Yogyakarta
Menyiapkan paper tentang temuan Kedidi Putih Calidris alba berjumlah besar di Pantai Trisik, Kulon Progo, Yogyakarta, ternyata mampu membawa saya “melanglang buana†ke berbagai penjuru Nusantara. Ya, lewat penelusuran berbagai buku, jurnal dan catatan-catatan yang terkumpul, saya jadi bisa melihat rekam jejak keberadaan burung bernama Inggris Sanderling ini di Indonesia.
Meski secara umum burung pantai migran ini adalah pengunjung tetap, namun di sebagian besar kawasan Indonesia keberadaannya digolongkan sebagai jarang (scarce) atau tidak umum (uncommon). MacKinnon & Phillipps (1993), menyebutkan bahwa burung ini merupakan pengunjung yang agak jarang di Sunda Besar.
Di Sumatera, Crossland dkk., (2006) mengkategorikan burung ini sebagai pengunjung yang jarang. Walaupun keberadaannya diperkirakan umum di pantai-pantai berpasir di bagian barat Sumatera, namun diperlukan survey terlebih dahulu untuk membuktikannya. Catatan paling besar adalah sebanyak 31 ekor di Delta Banyuasin, Sumatera Selatan pada 3 Oktober 1988 (Verheugt dkk., 1990).
Di Kalimantan, (sejauh penelusuran yang saya dapatkan) burung ini hanya pernah tercatat satu kali, yakni pada November 1987 di Senipah, Delta Sungai Mahakam, Kalimantan Timur (Holmes 1997). Di kawasan delta, yang jika pada peta tampak seperti kipas, tersebut Eve dan Guigue, pencatatnya, hanya menjumpai empat ekor.
Di Jawa, burung ini lebih sering dijumpai di pesisir selatan dengan catatan terbesar adalah 220 ekor pada 7 Oktober 1997, teramati di Cungur, TN Alas Purwo, Jawa Timur (Grantham 2000). Sementara di Bali, burung ini tercatat di TN Bali Barat dan Pulau Serangan. Jumlah terbesar, sebanyak 37 ekor pada 26 Juni 1982, dicatat oleh Derek Holmes (Ash 1984). Sayang, tidak disebutkan secara detil lokasi penemuannya.
Meski jarang tercatat, di kawasan Sunda Kecil (Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku) Kedidi Putih diperkirakan dapat dijumpai di mana saja (di habitat yang sesuai). Catatan jumlah terbesar adalah sebanyak 112 ekor pada 15 Januari 1989 di Suaka Margasatwa Mampie, Sulawesi Selatan (Baltzer 1990). Di Papua, Bishop (2006) menetapkan status burung ini sebagai jarang, dengan catatan terbesar sebanyak 10 ekor yang dicatatnya di daerah Lampusatu, dekat Merauke, pada 4 November 1983.
Catatan terbaru dari Jawa
Dengan catatan-catatan itu, tak ayal temuan Crossland dkk., (2010) di Pantai Glagah, Kulon Progo, Yogyakarta menjadi yang terbesar. Sekitar 432 ekor yang terhitung olehnya saat kunjungan pada 14 Oktober 2005. Dan dengan perkiraan populasi yang mencapai 5000 ekor untuk Indonesia—atau sekitar 25% dari jumlah total perkiraan populasi yang ada di rute terbang Asia Timur-Australasian—temuan tersebut hampir mendekati 10%-nya.
Dari kriteria penetapan kawasan penting internasional bagi burung pantai, temuan tersebut memasukkan kawasan Pantai Glagah menjadi salah satu international important site untuk Kedidi Putih di rute terbang Asia Timur-Australasia, sekaligus yang pertama untuk jenis ini di Indonesia. Karena sebagaimana kriteria yang ditetapkan, suatu kawasan dianggap sebagai kawasan penting internasional apabila di kawasan tersebut tercatat 1% dari total populasi suatu jenis burung pantai. Untuk Kedidi Putih, angkanya adalah 220 ekor.
Mengetahui hal itu, maka saya dan beberapa kawan pengamat burung di Yogyakarta merasa perlu untuk menuliskan tentang keberadaan Kedidi Putih di Pantai Trisik. Dengan jumlah terbesar yang pernah tercatat mencapai 1845 ekor (sekitar 37% populasi di Indonesia), yakni pada 2 Januari 2010, Pantai Trisik pun masuk sebagai kawasan penting internasional bagi Kedidi Putih.
Namun demikian, jumlah tersebut tidak menjadikan Pantai Trisik sebagai lokasi temuan Kedidi Putih terbesar untuk Indonesia karena berdasar survey yang pernah dilakukan B. B. Setiawan, senior kami yang akrab disapa Mas Wawan, bersama Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Yogyakarta, catatan terbesar adalah di Pantai Glagah. Pada 24 Desember 2006, di pantai, yang hanya berada sekitar 16 km di barat Pantai Trisik, itu mereka mencatat keberadaan sekitar 2025 ekor.
Acuan
Ash, J. S. 1984. Bird observations on Bali. Bull. Brit. Orn. Club 104 (1): 24-35.
Baltzer, M. C. 1990. A report on the wetland avifauna of South Sulawesi. Kukila 5 (1): 27-55.
Bamford, M., D. Watkins, W. Bancroft, G. Tischler, & J. Wahl. 2008. Migratory Shorebirds of the East Asian-Australasian Flyway: Population Estimates and Internationally Important Sites. Wetlands International – Oceania. Canberra, Australia.
Bishop, K. D. 2006. Shorebirds in New Guinea: their status, conservation and distribution. Stilt 50:Â 103-134.
Crossland, A. C., S. A. Sinambela, A. S. Sitorus & A. W. Sitorus. 2006. An overview of the status and abundance of migratory waders in Sumatera, Indonesia. Stilt 50:Â 90-95.
Crossland, A. C., A. S. Sitorus & H. A. Chandra. 2010. Discovery of an Important Site for Sanderling Calidris alba on the South Coast of Java. Stilt 57: 3-4.
Grantham, J. 2000. Birds of Alas Purwo National Park, East Java. Kukila 11: 97-121.
Holmes, D. A. 1996. Sumatran Bird Report. Kukila 8: 9-56.
Holmes, D. A. 1997. Kalimantan Bird Report-2. Kukila 9: 141-169.
MacKinnon, J. & K. Phillips. 1993. A Field Guide to the Birds of Borneo, Sumatra, Java and Bali. Oxford University Press, London.
Setiawan, B. B. 2007. Data Survey Burung Migran. Tidak Dipublikasikan. Yayasan Kutilang Indonesia, Yogyakarta.
Verheugt, W. J. M., F. Danielsen, H. Skov, A. Purwoko, R. Kadarisman & U. Suwarman. 1990. Seasonal variations in the wader populations of the Banyuasin Delta, South Sumatra, Indonesia. Wader Study Group Bull. 58: 28-35.





Really like this article.
I think imam has a very good energy and talent to write articles like this. In my further thoughts, i think Indonesia needs more and more this kind of article with other type of species. Especially, knowing that fobi is easy to access by people from around the globe.
keep on writing brother..
Terima kasih, Dokter Oka… Semoga tulisan ini ada manfaatnya
Salam