
Pengamatan di mudflat Terusan, TN Karimunjawa, (11/08).
“Karimunjawa 1, Kang?†Tanya saya pada Kang Hary sembari menunjukkan foto Pergam Laut Ducula bicolor hasil digiscoping-an.
“Enggak,†jawab Kang Hary singkat. “Aku sudah pernah up load,†terangnya. Dan pupuslah harapan saya foto itu jadi yang pertama. Pertanyaan, yang sering juga menjadi pernyataan, itu memang kerap terlontar saat Adhy “Batak†Maruly, Sitta Yusti Azizah dan saya berburu foto di Taman Nasional Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, 4-15 Agustus 2010. Perburuan atas undangan Kang Hary Cs. itu misi utamanya sebenarnya adalah untuk mengamati keberadaan Elang-laut Perut-putih Haliaeetus leucogaster, namun sembari mengubek-ubek Karimunjawa, berburu foto biodiversitas seakan jadi agenda yang tak terhindarkan.
Istilah “Karimunjawa 1†yang saya tanyakan itu sebenarnya merujuk ke penomoran setiap foto di FOBI. Foto pertama suatu spesies asal Karimunjawa pasti akan diberi nomor 1, dan kebanyakan foto spesies dari taman nasional, yang berada di 41 mil laut sebelah utara daratan Jawa, itu adalah merupakan kontribusi Kang Hary. Maka, kalau kami yang mendapatkan foto spesies yang belum pernah di-up load Kang Hary, itu seperti bernilai lebih. Ibarat tim tamu mengalahkan tuan rumah, begitu kira-kira.

Pulau Burung, satu dari 27 gugusan pulau di Kep. Karimunjawa yang menjadi lokasi bersarang Elanglaut Perut-putih. Tampak pada foto sarang berada di pohon tertinggi.
Meski demikian sering juga Bioders, yang merupakan staf Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), bernama lengkap Hary Susanto itu berkomentar spontan saat melihat kami memotret sesuatu.
“Karimunjawa 1,†katanya tanpa ditanya. Maksudnya, yang kami foto tersebut belum pernah di-up load olehnya. Hehehe…
Listing Fauna
Dari 117 jenis burung yang menjadi kekayaan TN Karimunjawa, kami mencatat kehadiran 53 jenis di antaranya. Dari jumlah tersebut setidaknya ada tiga jenis yang menjadi catatan menarik, yakni seekor raptor yang dari cirinya, identifikasi mengarah ke Elang Paria Milvus migran. Namun, masih butuh kepastian untuk identifikasinya. Elang tersebut teramati di area tambak Nyamplungan (9/8) dan daerah sekitar G. Wayangan (11/8). Dua jenis yang lain, Gelatik Jawa Padda oryzivora dan seekor love bird! bisa dipastikan sebagai lepasan. Selain itu, beberapa ekor Gajahan Pengala Numenius phaeopus dan Trinil Pantai Actitis hypoleucos yang teramati seperti menandai dimulainya musim migrasi burung pantai tahun ini.

Perburuan objek makro (Foto oleh Sitta Y. A.)
Tidak hanya burung, selama blusukan ke berbagai tipe ekosistem yang ada kami pun mencoba membuat daftar jenis kupu-kupu dan capung yang kami jumpai. Sebagai pengamat burung, membuat daftar jenis burung yang teramati itu lumrah, tapi bagaimana kalau membuat daftar jenis kupu-kupu dan capung? Hmm… pastinya tidak mudah, meski untuk kupu-kupu listing yang dibuat tidak mengalami kendala berarti. Dari 36 jenis yang telah tercatat, kami menjumpai sekitar 21 jenis, termasuk di antaranya Idea leuconoe karimondjawae yang endemik.
Sementara, listing untuk capung yang lumayan berantakan. Dari 20-an jenis yang tercatat kebanyakan tidak sempat tertulis nama spesiesnya, hanya ada keterangan berdasar karakter semacam “merah ujung hitam seperti di mangrove Bama†atau “biru pangkal abdomen gendutâ€. Benar-benar listing ala kadarnya, sekadar mengandalkan ingatan atas jenis-jenis yang pernah dijumpai di lokasi lain karena minimnya referensi saat di lapangan. Barulah setelah bisa leluasa mengakses FOBI diketahui jenis-jenis tersebut adalah Lathrecista asiatica dan Acisoma panorpoides.
Sedikit memang biodiversitas yang bisa kami sentuh, sementara kekayaan biodiversitas TN Karimunjawa yang lain seakan terlewatkan. Kalaulah mau mencari pembenaran, itu mungkin akibat kunjungan kami yang terasa sangat singkat, meski sebenarnya itu mencerminkan minimnya pengetahuan kami atas kekayaan biodiversitas yang ada. Tapi mungkin ada kesempatan di lain waktu, bersama lebih banyak lagi Bioders yang terlibat, dalam agenda yang memang bertujuan untuk mengeksplorasi biodiversitas taman nasional laut tersebut. Kalau sudah begitu, mengubek-ubek Karimunjawa pasti lebih seru.











