Brugmansia suaveolens - Gonoharjo 3







FOBI - Foto Biodiversitas Indonesia

Situs
Basisdata
Foto
dan
Komunitas
Pemerhati
Keanekaragaman
Hayati
Indonesia

Pers Release: Pekan Biodiversitas Indonesia 2012

Pamflet Pekan Biodiversitas Indonesia

Pamflet Pekan Biodiversitas Indonesia

“Berpacu dengan Waktu, Menyelamatkan Biodiversitas dengan Burung sebagai Indikator.” Inilah tema besar yang diusung oleh BIOLASKA (Biologi Pencinta Alam Sunan Kalijaga) dalam acara Pekan Biodiversitas Indonesia (PBI). Acara ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup dan Hari Keanekaragaman Hayati dengan semangat guyub dalam kesederhanan sebagai identitas Yogyakarta.

Acara tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 5-10 Juni 2012 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara Terdapat beberapa subtema besar, seperti pameran fotografi, edukasi konservasi, dan saresehan bersama para pengamat burung Indonesia. Melalui acara tersebut Biolaska ingin menyosialisasikan tentang konservasi kepada masyarakat, serta ingin mempertemukan para pengamat burung Indonesia agar tali silaturahmi selalu terjaga.

Esensi pertama dari tema kegiatan ini adalah menumbuhkan kesadaran publik tentang konservasi biodiversitas di Indonesia dan upaya penyelamatannya. Kedua, memperluas pengetahuan mengenai dunia fotografi kehidupan liar. Ketiga, untuk memperluas pengetahuan tentang burung bagi pengamat burung di Indonesia.

PBI memiliki beberapa subtema. Pertama, “Biodiversitas di Ujung Lensa” yang akan menampilkan 30 foto biodiversitas Indonesia hasil bidikan fotografer hidupan liar dari seluruh Indonesia dan akan dipamerkan pada tanggal 5-9 Juni 2012 di Lobi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Subtema pertama akan didukung dengan acara “Coaching Photography” yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Juni 2012. Pada acara “Coaching Photography” akan diadakan pelatihan wildlife photography untuk mahasiswa oleh fotografer profesional yang tentunya akan menambah keahlian para mahasiswa dalam hal wildlife photography.

Subtema kedua yaitu “Edukasi Konservasi” yang akan diadakan pada tanggal 5 dan 7 Juni 2012. Sasaran kegiatan ini adalah siswa Taman Kanak-kanak dan siswa SMA lingkup Jogja-Jateng. Siswa TK akan mengenal konservasi melalui lomba mewarnai pada tanggal 5 sedangkan Siswa SMA dapat menyalurkan pendapat tentang konservasi dengan mengikuti lomba penulisan Essay. Essay yang masuk final akan dipresentasikan tanggal 7 Juni 2012 di Teatrikal Sains dan Teknologi UIN Yogyakarta.

Subtema ketiga, “Saresehan Bersama Pengamat Burung Indonesia” pada tanggal 9-10 Juni 2012. Dalam acara ini akan mengupas tuntas dunia perburungan Indonesia tempo dulu, sekarang, dan harapannya ke depan, tentunya dengan narasumber yang tidak asing lagi di dunia ornitologi Indonesia. Dalam rangkaian acara ini juga diadakan kampanye dan sosialisasi dalam bentuk pengamatan bersama untuk mengeksplorasi kawasan Bukit Plawangan di Merapi, Sleman, Yogyakarta.

Contact Person:

Tika - 087839591457

Nova - 085729810648

Nurdin - 085712691138

Info selengkapnya dapat dibaca di www.biolaska.wordpress.com

Did you like this? Share it:

Malaxis kobi, si anggrek mini

Malaxis kobi, si anggrek mini. Plawangan, Taman Nasional Gunung Merapi.

Malaxis kobi dari Plawangan, Taman Nasional Gunung Merapi, Februari 2012.

“Dan merupakan kaidah emas jika satu tumbuhan menarik dijumpai di suatu tempat, pasti banyak lagi yang lain terdapat pula di situ.” (Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis dalam Flora Pegunungan Jawa)

***

Saat asyik memotret Appendicula alba, sejenis anggrek tanah berbunga putih, mata saya tiba-tiba tertuju ke tanaman kecil yang tumbuh di dekatnya. Beberapa bunga mungil tampak menyembul, kecurigaan saya lalu muncul.

Sepertinya tanaman mini itu juga anggrek. Namun, saya tidak yakin. Segera saja saya mengabarkan temuan di Plawangan, lereng selatan Taman Nasional Gunung Merapi, itu, pada Asat.

Untuk Anda ketahui, rekan saya yang satu itu sangat–istilah saya–melek anggrek. Dan dengan sedikit ciri yang saya sampaikan, Asat menduga kalau tanaman tersebut bernama Malaxis latifolia. Yup, itu anggrek.

Penasaran dengan yang saya temukan, sepulangnya dari Plawangan saya lantas browsing untuk mencari tahu. Namun, ternyata bukan Malaxis latifolia yang saya lihat. Pencarian saya lanjutkan. Daftar jenis anggrek lereng selatan Merapi dari situs milik Sulistyono (nusaanggrek.blogspot.com) jadi panduan utama. Dari 57 jenis anggrek yang tercantum dalam daftar, salah satunya ternyata ada yang mirip.

Saya pun meng-sms Asat, “Kayaknya Malaxis kobi..”

Asat tidak serta merta mengiyakan. Guru anggrek saya ini justru membalas dengan menyebutkan ciri di antara latifolia dan kobi. Darinya saya kemudian tahu kalau keduanya terbilang mirip. Pembeda yang paling mudah adalah habitatnya. Latifolia hidup di hutan lembab, sedangkan kobi di daerah terbuka dan berumput. “Tapi kayane perlu ambil sampel bunga untuk pengukuran lebih lanjut,” sarannya.

Namun, dengan ciri yang terlihat pada kedua jenis anggrek itu, saya melihat kalau bunganya cukup berbeda. Saya katakan padanya kalau saya masih lebih condong ke Malaxis kobi.

Bunga Malaxis kobi. Plawangan, Taman Nasional Gunung Merapi, Februari 2012.

Bunga Malaxis kobi. Plawangan, Taman Nasional Gunung Merapi, Februari 2012.

Asat rupanya memang sudah memahami betul sikap yang harus dimiliki seorang saintis, skeptis. Ragukan semuanya sampai benar-benar yakin. Keyakinan saya belum juga membuatnya sependapat, malah saya mendapat pertanyaan lebih lanjut dari pria yang punya nama lengkap Agung Satria Wibowo itu.

“Jumlah daune piro? (jumlah daunnya berapa?)” Katanya.

“Tiga,” balas saya segera (yang kemudian setelah saya teliti lagi, ternyata empat. hehehe). “Sepintas bentuknya kayak daun jagung. Batang utama, tangkai daun dan tangkai bunga berwarna merah keunguan.”

“Oke,” jawabnya. “Tambahan kunci ID (identifikasi.red), Malaxis kobi berdaun 3-6, tangkai bunga 10-13,5 cm (tangkai tanpa bunga 3-4,5 cm). Malaxis latifolia daun 4-5, tangkai bunga 17-52 cm (tanpa bunga sampai dengan 24 cm).”

Ciri-ciri tersebut ternyata makin menguatkan. Tanaman yang tumbuh di dinding tebing jalan setapak menuju Goa Jepang itu memang terbilang sangat kecil. Akhirnya, dengan cukup yakin saya menjawab, “So far it still match with kobi..

Status

Dalam Ekologi Jawa Bali (Whitten, dkk, 1999), terdapat daftar seluruh anggrek endemik Jawa dan Bali. Jumlahnya mencapai 217 jenis, dan Malaxis kobi adalah salah satunya. Dan dari buku itu saya kemudian tahu kalau ternyata sebaran Malaxis kobi hanya terbatas di Jawa bagian tengah dan timur.

Selain informasi sebaran, dalam daftar yang bersumber dari Orchids of Java (Comber 1990) itu terdapat pengkategorian status. Ada enam kategori.

Bila tidak ada kekhawatiran, statusnya tertulis OK. Bila informasinya kurang, maka tertulis I. Jenis-jenis yang perlu mendapat perhatian serius adalah yang berstatus R (jarang ditemukan walaupun dilakukan pencarian), V (rentan) dan EN (mungkin dalam keadaan terancam). Sementara EX jadi status yang paling menyedihkan, yang berarti mungkin jenis bersangkutan telah punah.

Di daftar itu status Malaxis kobi tertulis OK. Keberadaannya dianggap masih aman. Namun sebagaimana Asat, saya pun mencoba skeptis. Orchids of Java yang jadi acuan sudah berusia lebih dari 20 tahun, karena itu tidak ada jaminan kalau di saat ini dan di masa yang akan datang status-status yang ada masih tetap sama.

Sejauh pengamatan saya di paruh ke-2 Februari 2012 itu, hanya dua individu Malaxis kobi yang terlihat. Namun demikian, mengingat ukurannya yang cukup mini, sangat mungkin saya melewatkan banyak individu lain. Lagipula pengamatan saya hanya sebatas pada dinding tebing di jalur Goa Jepang. Itu pun dengan konsentrasi yang terpecah oleh kicauan bermacam burung atau kelebatan kupu-kupu yang tak henti menggoda. Dalam kondisi seperti itu, saya bingung sendiri harus mengamati yang mana.

-IT-

Did you like this? Share it:

Hati-hati Serangan Kumbang Bubuk!

Kumbang bubuk dengan mandibulanya yang besar

Kumbang bubuk dengan mandibulanya yang besar

Jika masyarakat sibuk dengan tomcat, saya malah berurusan dengan serangga lain. Awalnya saya mengira bunyi berisik dari dalam kayu itu ulah rayap atau tikus. Rupanya itu dari serangga kecil, yang kata sejenis iklan pemusnah hama, bernama kumbang bubuk.

Serangga yang juga dikenal sebagai kumbang penggerek kayu itu intensif membuat bunyi-bunyian. Warnanya hitam, bisa terbang dan pekerjaannya melubangi kayu. Ia adalah pembuat masalah, apalagi saat malam hari. Mengganggu waktu tidur. Baca selanjutnya…..

Did you like this? Share it:

Majalah BI 3 bertema Reptil: Mari Berkontribusi

Dear Bioders,

Majalah Biodiversitas Indonesia edisi 3 (tema reptil) akan segera terbit pada Mei mendatang. Bagi Bioders yang ingin menyumbangkan karya tulis dan fotonya, redaksi masih membuka kesempatan hingga 31 April 2012.

Selain itu, redaksi juga menerima informasi mengenai agenda kegiatan terkait biodiversitas yang penyelenggaraannya berlangsung antara Juni-November 2012. Jadi, jangan ragu untuk mengumumkan kegiatan yang akan Bioders lakukan melalui majalah BI.

Ketentuan tulisan:

  1. Tulisan bertema reptil
  2. Minimal 4 halaman
  3. Font Times New Roman 12 dengan spasi 1.15.
  4. Sertakan foto dengan ukuran 1 MB tanpa watermark. Beri keterangan (caption) paling tidak satu kalimat.
  5. Kirimkan ke redaksi majalah digital BI dengan alamat okadwipo@gmail.com atau orny_man@yahoo.com
  6. Pengiriman tulisan paling lambat 31 April 2012.

Mari berkarya dan berbagi!

Did you like this? Share it:

Sekelumit dari Ekspedisi FOBI 2012

Para Bioders peserta ekspedisi berfoto bersama. Foto oleh Swiss Winasis

Para Bioders peserta ekspedisi dalam sesi foto bersama di depan basecamp. Foto oleh Swiss Winasis

Setelah satu minggu blusukan di Cangar, Tahura R. Soerjo, Batu, Jawa Timur, para Bioders anggota Ekspedisi Foto Biodiversitas Indonesia pulang dengan mendapat hasil yang luar biasa. Guyuran hujan yang turun di setiap hari, suhu yang dingin menggigit dan rintangan alam lainnya tidak menghalangi semangat para Bioders untuk mencatat dan mendokumentasikan beragam jenis flora fauna yang ada.

Enam puluh Bioders yang berasal dari berbagai kota itu mampu mencatat tidak kurang dari 10 jenis mamalia, 90 jenis burung, 8 jenis amfibi dan reptil, 30 jenis kupu-kupu serta puluhan jenis serangga lainnya. Untuk jenis flora, sekitar 20 jenis anggrek ditambah puluhan jenis tanaman berbunga yang lain, paku-pakuan serta lumut, menjadi catatan yang makin menguatkan keberadaan Cangar sebagai kantong biodiversitas yang penting bagi Jawa Timur, bahkan Indonesia. Baca selanjutnya…..

Did you like this? Share it:
Page 1 of 1212345»...Last »