
Gonocephalus chamaeleontinus sedang menggali sarang
Pagi itu, sinar matahari pagi yang menyelinap diantara dedaunan pohon pinus memaksa saya untuk segera beranjak dari tenda hangat beralaskan sleeping bag. Waktu menunjukkan tepat pukul 06.00 WIB saat pagi di akhir Februari 2011 itu. Saya ditemani satu teman dari Pecinta Alam Haliaster seketika langsung bersiap-siap berjalan menyusuri Sungai Promasan untuk melakukan pendataan keanekaragaman jenis burung di salah satu habitat yang ada di Wana Wisata Gonoharjo ini. Di tengah perjalanan pulang, sekitar pukul 09.30 WIB, kami dikejutkan oleh seekor bunglon yang terdiam dan menghentikan aktivitasnya saat sedang menggali tanah. Nampaknya bunglon ini juga terkejut dengan kedatangan dua laki-laki aneh sehingga segera dia menghentikan aktivitasnya dan berkamuflase dengan cara berdiam diri. Melihat bunglon yang terdiam, kamera langsung saya arahkan ke bunglon tersebut. Dengan mudah beberapa gambar telah saya dapatkan, dan nampaknya si bunglon masih beranggapan bahwa penyamarannya dengan berdiam dan merubah warna tubuhnya menjadi gelap belum terbongkar. Melihat pandangan bunglon yang begitu waspada dan ketakutan, akhirnya saya meninggalkan si bunglon dengan harapan dia tidak terganggu dan dapat melanjutkan aktivitasnya kembali.

Telur Gonocephalus chamaeleontinus
Selang kurang dari satu minggu, saya bersama Pak Bas dan Deny kembali mendatangi lokasi perjumpaan dengan bunglon yang terlihat sedang menggali tanah beberapa hari yang lalu. Berbekal foto perjumpaan, kami berusaha memastikan lubang yang digali oleh bunglon tersebut karena kami berasumsi bahwa dia telah bertelur. Beberapa waktu menggali tetapi belum juga ditemukan letak pasti ‘sarang’ si bunglon. Saat kami mulai mengambil simpulan bahwa si bunglon batal bertelur, akhirnya saya menemukan ‘sarang’ bunglon tersebut. Terlihat jelas telur berwarna putih tertutup oleh tanah yang berpasir, 4 buah telur terlihat cukup jelas dan kami memperkirakan bahwa masih ada 2-4 telur lagi yang ada di bawah telur yang terlihat. Dengan sangat hati-hati kami menutup kembali sarang bunglon dan berharap posisi telur tidak berubah.

Gonocephalus chamaeleontinus dewasa
Setelah itu kami melakukan identifikasi jenis bunglon tersebut. Hasil identifikasi menyebutkan bahwa si bunglon memiliki nama Bunglon hutan (Gonochephalus chamaeleontinus) atau dalam bahasa Inggris biasa disebut Tioman Angle-Headed Lizard/Chameleon Forest Dragon. Ada beberapa referensi yang menyebutkan mengenai sarang dan telur reptil khususnya untuk kelompok bunglon. Kopstein (1938) menyatakan bahwa periode inkubasi telur Gonochephalus chamaeleontinus 106-119 hari. Das (2010) juga menyatakan bahwa bunglon hutan memiliki jumlah telur 3-6 butir dengan periode inkubasi sekitar 81-119 hari. Sementara berdasarkan para penangkar, Gonochephalus chamaeleontinus dalam setahun bisa menghasilkan 7 telur dengan masa inkubasi 70-80 hari pada suhu 28 C.
Sementara itu, kondisi sarang Bunglon hutan yang ditemukan di Gonoharjo sungguh sangat menarik. Bunglon hutan menggali sarang dengan material tanah yang bercampur dengan pasir dan kerikil kecil, bejarak 100 cm dari air (saluran irirgasi), dan 10 cm dari jurang. Kedalaman sarang kira-kira 10-15 cm. Lokasi sarang juga tak jauh dari pohon-pohon besar, jarak ke pohon besar terdekat hanya 3 m sehingga kondisi sarang tertutup oleh tajuk pohon yang cukup rapat.
Satu hal yang paling menarik yaitu bahwa bunglon hutan ini meletakkan sarangnya tepat di atas pipa saluran air panas. Seketika muncul pertanyaan, mengapa bunglon tersebut meletakkan sarangnya tepat diatas pipa air panas? Apakah itu salah satu metode pertahanan bagi sarangnya agar memperoleh suhu optimal bagi telur-telurnya, ataukah hanya suatu kebetulan belaka? Apakah kondisi sarang yang diletakkan di atas pipa air panas memiliki masa inkubasi yang lebih cepat? Kemudian kami memutuskan untuk mencoba mengukur suhu sarang dan di sekitar sarang. Suhu tanah yang berada di sekitar sarang memiliki rata-rata 23,5 C, sementara suhu tanah yang dijadikan sarang 24,5 C, suhu pipa tanpa pembungkus 35 C, dan suhu pipa yang terbungkus pengaman 25 C. Perlu diketahui sarang tadi diletakkan di atas pipa air panas yang terbungkus oleh pelindung, terlihat bahwa suhu tanah pada sarang memeiliki perbedaan dengan suhu tanah yang berada di sekitar sarang. Meskipun selisih antara keduanya hanya 1 C namun kemungkinan besar hal ini sedikit mempengaruhi pemilihan lokasi sarang oleh bunglon.

Telur pada hari yang ke-70
Akhirnya kami pun melakukan monitoring sarang bunglon untuk memastikan seberapa lama masa inkubasi telur bunglon yang ada di sarang sekaligus untuk menjaga sarang bunglon ini, mengingat lokasi sarang yang berada ditepi saluran irigasi dan banyak orang yang melewati tempat ini. Selama monitoring, pernah suatu ketika kami dikejutkan oleh tanah yang berada di sekitar sarang terlihat berantakan, pembungkus pipa, dan sisa potongan pipa pun ikut berantakan. Ternyata baru saja dilakukan perbaikan pipa air panas. Kami langsung bergegas memeriksa lokasi sarang bunglon hutan, dan untung saja telur-telur itu masih ada dan belum bergeser dari lokasinya walaupun ada perbaikan pipa. Sungguh kebetulan yang tak terduga telur-telur itu bisa selamat. Saat memeriksa sarang tersebut, jelas terlihat bahwa telur yang tadinya berwarna putih bersih sekarang mulai berwarna kuning kusut. Waktu itu sekitar 1,5 bulan setelah penemuan sarang bunglon dan ini sudah mendekati masa akhir inkubasi telur.

Ukuran telur Gonocephalus chamaeleontinus
Pada hari yang ke-70 kami mencoba membuka sarang untuk memastikan apakah telur sudah menetas karena kami beranggapan masa inkubasi telur lebih cepat dari yang biasanya. Setelah kami membuka sarang, benar sekali yang kami dapati hanya telur yang sudah berlubang atau mungkin ‘menetas’. Perlahan kami ambil cangkang telur-telur tersebut dan total jumlah telur yang ada yaitu 6 butir. Kami belum tau pasti bagaimanakah kondisi telur bunglon yang menetas karena kamipun belum pernah mendapati telur bunglon sebelumnya. Jika dilihat dari kondisinya yang berlubang di tengah, mungkin saja telur ini menetas. Jika pun benar menetas berarti masa inkubasi bunglon sedikit lebih cepat dari yang biasanya yaitu hanya selama 60-70 hari saja. Segera kami bawa cangkang-cangkang telur ini ke laboratorium untuk diukur dan di awetkan. Telur bunglon ini nampak berbentuk elips dengan ukuran panjang berkisar antara 22-25 mm dan lebar diameter tengah telur 13-14 mm.

Gonocephalus chamaeleontinus juvenile
Selain menemukan sarang dari Gonochephalus chamaeleontinus, selama di Gonoharjo setidaknya kami juga 2 kali menemukan 2 ekor juvenile dari bunglon ini yaitu pada awal Maret dan pertengahan Oktober 2011. Juvenile-juvenile ini selalu ditemukan di hutan pinus saat malam pada daun ‘tukulan’ kopi yang berjarak 30-50 dari tanah. Jika dirunut dari masa inkubasi telur, dalam satu tahun setidaknya ada tiga kali masa Bunglon hutan bertelur. Namun, karena bunglon yang bertelur belum tentu bunglon yang sama sehingga dapat diambil satu kesimpulan bahwa jenis Bunglon hutan bertelur sepanjang tahun. Selain juvenile, individu dewasa yang kami temui pun cukup bervariasi, dari yang berwarna hijau muda, tua, bahkan ada yang menunjukkan pola warna kuning tua yang jelas. Selama hampir satu tahun pengamatan di Gonoharjo selain menemukan Gonochephalus chamaeleontinus, kami juga menemukan beberapa jenis reptil lain seperti Draco volans, Draco haematopogon, Bronchocela jubata, Lipinia vittigera, Sphenomorphus punticentralis, Eutropis multifasciata, Ptychozoon kuhlii, Cyrtodactylus marmoratus, Hemidactylus platyurus, Hemidactylus garnotii, dan Apopeltura boa.
Oleh Bagus Dona Doni, P.A. Haliaster UNDIP







